STIT Syekh Burhanuddin: Penggerak Transformasi Pendidikan dan Keadaban
Oleh: Duski Samad
Ketua Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin
Insya Allah, Kamis 25 September 2025 Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah ( STIT) Syekh Burhanuddin Padang Pariaman akan menyelenggarakan wisuda ke 34. Usia terus menuju dewasa sejak berdri tahun 1978 lalu. Pergerakan kampus milik umat ini, tentu menjadi fardu'ain bagi semua pemangku kepentingan memaksimal semua potensi untuk mencapai keadaban yang lebih tinggi.
Pendidikan dalam Islam tidak hanya dimaknai sebagai proses transfer ilmu, tetapi juga sebagai sarana pembentukan adab (ta’dīb). Hal ini selaras dengan visi STIT Syekh Burhanuddin yang mengemban misi untuk melahirkan generasi berilmu, beradab, dan berkontribusi pada kesejahteraan umat. Lembaga ini hadir bukan sekadar mencetak sarjana, tetapi juga menggerakkan transformasi sosial dengan landasan keagamaan yang kuat.
Islam menempatkan pendidikan dan adab pada posisi utama. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad).
Ayat Al-Qur’an juga menegaskan keterkaitan ilmu dengan keadaban: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Al-Ahzab: 70–71).
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu tanpa keadaban dalam lisan dan perbuatan tidak akan memberi keberkahan. Pendidikan berfungsi untuk melahirkan insan yang benar dalam ilmu, adab, dan amal.
Perspektif Ilmiah
Dalam kajian ilmiah, pendidikan modern sering terjebak pada knowledge based education yang mengutamakan kognisi semata. Namun, menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, pendidikan Islam sejati adalah proses ta’dīb—penanaman adab yang menyatukan ilmu, iman, dan akhlak.
STIT Syekh Burhanuddin mengambil peran strategis sebagai penggerak transformasi pendidikan dengan ciri:
1.Integrasi Ilmu dan Adab.
Mahasiswa tidak hanya dibekali ilmu syariah dan ilmu sosial, tetapi juga akhlak mulia, kepemimpinan, dan kesadaran sosial.
2.Transformasi Sosial-Religius.
Pendidikan diarahkan untuk perubahan masyarakat melalui ishlah al-fard, al-usrah, al-mujtama‘, sebagaimana dikembangkan dalam tradisi tarbiyah.
3.Keadaban sebagai Pilar Kesejahteraan.
Konsep keadaban meliputi etika beragama, tanggung jawab sosial, serta penghargaan pada nilai-nilai lokal (Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah). Ini sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) yang menekankan pendidikan bermutu dan pembangunan berkelanjutan.
Relevansi Kontemporer
Di era globalisasi, pendidikan cenderung pragmatis dan berorientasi pasar. STIT Syekh Burhanuddin hadir sebagai koreksi dengan menekankan nilai wasathiyah (moderat), rahmatan lil ‘alamin, dan penguatan karakter. Hal ini penting agar alumni tidak tercerabut dari akar budaya dan agama, tetapi tetap adaptif terhadap tantangan modern.
Penutup
STIT Syekh Burhanuddin bukan sekadar institusi akademik, tetapi penggerak transformasi pendidikan dan keadaban. Dengan landasan nash Islam dan penguatan ilmiah, lembaga ini berupaya melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan berperan aktif dalam kesejahteraan umat. Sehingga, pendidikan bukan hanya mencetak gelar, melainkan menumbuhkan peradaban.
-
Dapatkan artikel terbaru langsung ke email Anda