NGOPI KURIKULUM BERBASIS CINTA: Mendidik dengan Hati, Bukan dengan Takut.
Oct 16, 2025 Oct 16, 2025
NGOPI KURIKULUM BERBASIS CINTA: Mendidik dengan Hati, Bukan dengan Takut.
NGOPI KURIKULUM BERBASIS CINTA: Mendidik dengan Hati, Bukan dengan Takut.

NGOPI KURIKULUM BERBASIS CINTA: Mendidik dengan Hati, Bukan dengan Takut.

Oleh: Duski Samad
Refleksi Ngopi (Ngobrol Pendidikan Islam, Kamis, 16 Oktober 2025 di UIN Imam Bonjol)

Pendidikan sejatinya adalah proses memanusiakan manusia. Namun dalam praktiknya, dunia pendidikan kita kerap terjebak dalam rutinitas mengejar angka, nilai, dan prestasi akademik. Anak didik diperlakukan sebagai objek, bukan subjek pembelajaran. Mereka dijejali pengetahuan tanpa kesempatan cukup untuk merasakan, memahami, dan mengembangkan sisi kemanusiaan nya.

Padahal, sebagaimana diingatkan oleh Paulo Freire dalam kritiknya terhadap the banking model of education, pendidikan yang hanya menekankan transfer pengetahuan tanpa dialog dan kasih sayang akan melahirkan generasi yang tertekan dan kehilangan jati diri.
Dari kesadaran inilah lahir gagasan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) — sebuah pendekatan pendidikan humanistik yang menempatkan cinta, empati, dan kepedulian sebagai inti dari proses belajar.

Kurikulum Berbasis Cinta (KBC): Sebuah Pendekatan Humanistik

Kurikulum Berbasis Cinta adalah kerangka pendidikan yang berangkat dari keyakinan bahwa setiap anak adalah pribadi unik, yang memiliki potensi dan cara belajar berbeda. Tugas pendidik bukan mengontrol dengan ketakutan, melainkan membimbing dengan cinta dan menghargai keberagaman.

Cinta dalam konteks pendidikan bukanlah romantisme, tetapi kekuatan spiritual dan moral yang mendorong guru untuk memahami murid secara utuh: akalnya, hatinya, dan lingkungannya. Pendidikan tanpa cinta hanya menghasilkan generasi cerdas tanpa nurani; sedangkan pendidikan dengan cinta melahirkan insan berilmu yang beradab dan berempati.

Empat Pilar Kurikulum Berbasis Cinta

1.Cinta kepada Diri Sendiri.

Anak diajak mengenali jati dirinya: potensi, kelemahan, dan cita-cita. Dengan mencintai diri sendiri secara sehat, mereka belajar menerima kekurangan dan menghargai kemampuan.

2.Cinta kepada Sesama.

Sekolah menjadi ruang empati, bukan arena kompetisi. Anak-anak dilatih untuk mendengarkan, menolong, dan bekerja sama. Mereka belajar bahwa kebahagiaan bukan hasil kemenangan, tetapi hasil kebaikan bersama.

3.Cinta kepada Lingkungan.

Cinta bukan hanya antar manusia, tetapi juga terhadap alam. Kurikulum cinta menanamkan kesadaran ekologis: menjaga kebersihan, menghemat energi, dan merawat bumi sebagai tanda syukur kepada Sang Pencipta.

4.Cinta kepada Tuhan.

Nilai spiritual menjadi pondasi utama. Belajar tidak hanya untuk sukses dunia, tapi juga untuk mendapatkan ridha Allah. Setiap aktivitas belajar menjadi ibadah bila disertai niat yang tulus dan akhlak yang baik.

Mengapa KBC Diperlukan

Kurikulum Berbasis Cinta hadir sebagai respon terhadap krisis pendidikan modern yang terlalu fokus pada kognitif dan hasil ujian.
Beberapa akibatnya:

Anak merasa tertekan dan takut gagal.

Sekolah kehilangan kehangatan dan makna.

Guru sibuk dengan administrasi, bukan pembinaan karakter.

KBC menjadi solusi dengan mengembali kan fungsi pendidikan sebagai ruang tumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan: kasih sayang, peduli, toleran, dan menghargai perbedaan.

Langkah Strategis Implementasi KBC

1.Perubahan Mindset Guru.

Guru harus meninggalkan paradigma “banking model” yang memandang siswa sebagai wadah kosong.
Dalam KBC, guru adalah sahabat belajar, pembimbing hati, dan teladan kasih sayang.

2.Redesain Pola Pembelajaran.

Pembelajaran yang teacher-centered perlu diubah menjadi student-centered.
Siswa diberi ruang untuk bertanya, berdialog, berekspresi, dan mengaitkan ilmu dengan kehidupan nyata. Guru hadir bukan sebagai penguasa kelas, tetapi sebagai fasilitator cinta dan penuntun nilai.

3.Penguatan Literasi

KBC tidak menafikan pentingnya literasi numerik dan digital, tetapi menambah kan literasi emosional dan moral.
Anak perlu diajarkan bagaimana mengelola emosi, memahami perasaan orang lain, dan menumbuhkan empati sosial.

Dampak dan Harapan

Pendidikan berbasis cinta akan melahirkan anak-anak yang:

Bahagia belajar karena merasa diterima dan dihargai.

Cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual.

Mencintai sesama, alam, dan Tuhannya.

Mampu hidup damai di tengah keberagaman.

Bagi guru, KBC menghidupkan kembali makna tugas suci: bukan sekadar mengajar, tetapi menebar kasih dan menuntun manusia menuju kebaikan.

Penutup

Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) bukan sekadar inovasi kurikulum, tetapi revolusi moral dalam dunia pendidikan. Ia mengembalikan ruh pendidikan sebagai perjalanan spiritual yang menumbuhkan kebijaksanaan dan kedamaian.
Ketika guru mengajar dengan cinta dan murid belajar dengan rasa dicintai, maka sekolah akan menjadi taman kasih sayang — tempat di mana ilmu tumbuh bersama nurani.

 “Didiklah dengan cinta, karena hanya cinta yang mampu menumbuhkan manusia seutuhnya.”
DS.16102025.

Please Login to comment in the post!
Relate Post
Berita Nasional
KERAGAMAN ITU POTENSI

Read More
Berita Nasional
WAFATNYA ULAMA LIMA ZAMAN BUYA BAGINDO M.LETT...

Read More
Berita Nasional
BASAPA: TRADISI, PROSESI DAN REKOMENDASI

Read More
Berita Nasional
SEJARAH "TABUIK PIAMAN" DAN PERAN DAKWAH SYEI...

Read More
Berita Nasional
KONTROVERSINYA AL HAJJAJ BIN YUSUF ATS TSAQAF...

Read More
" />