Mauluik Syarafal Anam (4): Kajian Sosiologis Relasi Adat dan Syarak di Lingkungan Padang Pariaman dan Tarekat Syathariyah
Oct 15, 2025 Oct 15, 2025
Mauluik Syarafal Anam (4): Kajian Sosiologis Relasi Adat dan Syarak di Lingkungan Padang Pariaman dan Tarekat Syathariyah
Mauluik Syarafal Anam (4): Kajian Sosiologis Relasi Adat dan Syarak di Lingkungan Padang Pariaman dan Tarekat Syathariyah

Mauluik Syarafal Anam (4): Kajian Sosiologis Relasi Adat dan Syarak di Lingkungan Padang Pariaman dan Tarekat Syathariyah

Oleh: Duski Samad
Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang

Abstrak

Artikel ini mengkaji tradisi Mauluik Syarafal Anam di Padang Pariaman dalam konteks relasi antara adat dan syarak. Tradisi ini berakar kuat pada warisan ajaran Syekh Burhanuddin Ulakan dan berkembang di kalangan penganut Tarekat Syathariyah. Dengan menggunakan pendekatan sosiologi agama dan antropologi budaya, tulisan ini menunjukkan bahwa Maulid Nabi bukan sekadar ritual seremonial, tetapi mekanisme sosial dan spiritual untuk menjaga kohesi sosial, menanamkan nilai keagamaan, serta memperkuat identitas kolektif masyarakat Minangkabau.

Kata Kunci: Maulid Nabi, Syarafal Anam, Adat dan Syarak, Tarekat Syathariyah, Sosiologi Islam

Pendahuluan

Masyarakat Padang Pariaman dikenal memiliki tradisi keagamaan yang sangat kental dengan nuansa adat dan tarekat. Salah satu wujudnya adalah Mauluik Syarafal Anam—sebuah bentuk peringatan kelahiran Nabi Muhammad ﷺ yang diiringi dengan lantunan badikie, sedekah badoncek, serta simbol-simbol adat seperti lamang, jamba, dan tabir surau.

Dalam konteks sosial, Maulid Nabi berfungsi sebagai wahana memperkuat solidaritas, memperbarui semangat religius, dan meneguhkan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Tradisi ini bukan hasil kompromi, melainkan hasil integrasi budaya dan syariat yang diolah oleh para ulama lokal, terutama Syekh Burhanuddin Ulakan dan pengikut Tarekat Syathariyah.

Kerangka Teoretis: Sosiologi Agama dan Integrasi Nilai

Menurut Emile Durkheim (1912) dalam The Elementary Forms of Religious Life, agama berfungsi menjaga solidaritas sosial melalui ritual kolektif yang memperkuat kesadaran moral bersama. Weber (1963) menambahkan bahwa ritual keagamaan juga menjadi sumber legitimasi nilai dan tatanan sosial.

Dalam konteks Islam Nusantara, Syed Hussein Alatas (1977) dan M. Dawam Rahardjo (1985) menegaskan bahwa Islam tidak datang menghancurkan budaya lokal, melainkan mengislamkannya melalui proses internalisasi nilai tauhid dalam simbol-simbol sosial. Dengan kerangka ini, Mauluik Syarafal Anam dapat dipahami sebagai bentuk religious acculturation — perpaduan nilai syarak dengan adat melalui ekspresi sosial keagamaan yang menyatukan masyarakat nagari.

Hasil dan Pembahasan
1. Asraqal Badru dan Adab Berdiri

Momen pembacaan Asraqal Badru ‘alaina menjadi inti spiritual Maulid. Berdiri saat bait ini dilantunkan merupakan ekspresi cinta dan penghormatan kepada Rasulullah ﷺ. Dalam kepercayaan nan tuo, berdiri bukan formalitas, tetapi bentuk ta’dzim (penghormatan) yang bernilai ibadah. Ini adalah simbol internalisasi adab syarak ke dalam adat—menjadikan tubuh, ruang, dan waktu sebagai media pengagungan Rasulullah ﷺ.

2. Manompang dan Jamba: Ritual Solidaritas Sosial

Manompang adalah praktik membawa jamba berisi hidangan dari rumah ke surau untuk dibagikan. Masyarakat menyebutnya “makanan ke sorga,” karena diyakini bernilai sedekah. Dari perspektif sosiologi Islam, ini merupakan ritual redistribusi sosial yang memperkuat kohesi masyarakat (Durkheimian solidarity). Ritual ini juga mengandung makna spiritual tarekat: berbagi rezeki sebagai bentuk tazkiyah an-nafs (penyucian diri), meniru kedermawanan Nabi, dan mempererat hubungan antarjamaah. Dengan demikian, manompang menjadi media dakwah sosial yang efektif.

3. Lamang dan Estetika Adat-Syarak

Tradisi malamang—memasak beras ketan dengan santan dalam bambu—memiliki makna simbolik mendalam. Ajaran Syekh Burhanuddin menempatkan lamang sebagai simbol kesyukuran dan kebersamaan. Semua perlengkapan seperti tabir, tirai, dulang memperlihatkan nilai estetika yang lahir dari perpaduan adat dan syarak. Dalam pendekatan antropologi simbolik Clifford Geertz (1973), lamang adalah “tanda sosial keagamaan” yang memvisualisasikan integrasi nilai Islam dalam bentuk adat. Ia menjadi bukti bahwa syarak memberi ruh, adat memberi wadah.

4. Badoncek: Ekonomi Moral dalam Kehidupan Nagari

Badoncek bukan sekadar sumbangan, tetapi sistem ekonomi moral berbasis nilai ukhuwah dan gotong royong. Melalui badoncek, masyarakat menegaskan eksistensi sosialnya: “hidup di nagari harus saling bantu.”
Pierre Bourdieu (1986) menyebut ini sebagai modal sosial religius—praktik simbolik yang memperkuat jaringan sosial dan kepercayaan. Dalam konteks Padang Pariaman, badoncek menegaskan konsep amal jama’i (amal kolektif) yang berlandaskan nilai syarak dan adat.

5. Maulid Nabi: Islamisasi Budaya dan Pewarisan Nilai

Tradisi Maulid di Padang Pariaman adalah bentuk Islamisasi budaya yang dijalankan secara halus dan bijak. Para ulama Syathariyah mengemas dakwah melalui seni suara (badikie), sedekah (badoncek), dan simbol adat (lamang, tabir, jamba). Hal ini memperlihatkan strategi dakwah yang kontekstual—tidak menolak budaya, tetapi menyucikan maknanya. Dalam perspektif Nurcholish Madjid (1992), inilah bentuk kulturalisasi Islam: membumikan nilai ketauhidan dalam sistem sosial lokal tanpa kehilangan substansinya.

Kesimpulan
Tradisi Mauluik Syarafal Anam merupakan warisan ulama yang berhasil mengharmonikan adat dan syarak dalam satu kesatuan sosial dan spiritual. Ia tidak hanya berfungsi sebagai ritus keagamaan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan moral, sosial, dan kultural. Dalam masyarakat Padang Pariaman dan jaringan Tarekat Syathariyah, tradisi ini menjadi living heritage—warisan yang hidup dan terus diperbarui melalui praktik sosial. Dengan demikian, Maulid Nabi bukan sekadar peringatan, tetapi proses pembudayaan Islam yang menjaga jati diri dan moral masyarakat nagari.

Daftar Pustaka (Selektif)

Alatas, Syed Hussein. Islam dan Kebudayaan Melayu. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1977.
Bourdieu, Pierre. Forms of Capital. In Richardson, J. (ed.), Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education. New York: Greenwood, 1986.
Durkheim, Émile. The Elementary Forms of Religious Life. New York: Free Press, 1912.
Geertz, Clifford. The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books, 1973.
Madjid, Nurcholish. Islam, Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina, 1992.
Rahardjo, M. Dawam. Islam dan Transformasi Sosial Ekonomi. Jakarta: LP3ES, 1985.
Weber, Max. The Sociology of Religion. Boston: Beacon Press, 1963.

Please Login to comment in the post!
Relate Post
Berita Internasional
STIT Syekh Burhanuddin Pariaman Jalin MoU den...

Read More
Berita Internasional
Dosen STIT Syekh Burhanuddin Pariaman Laksana...

Read More
" />