MAULID 1447 H
(Akhlaq Rendah Pemimpin Mengundang Bencana)
Oleh:
Prof. Dr. Duski Samad, M.Ag
Ketua Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin
Peringatan Maulid Nabi Muhammad 1447 H selalu menjadi momentum untuk menimbang kembali kualitas akhlaq, terutama akhlaq para pemimpin bangsa. Rasulullah menegaskan: “Innama bu’itstu li utammima makarimal akhlaq” — “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurna kan kemuliaan akhlaq” (HR. Ahmad).
Ajaran Nabi yang penuh keteladanan ini memberi pelajaran besar bahwa kepemimpinan yang berlandaskan akhlaq mulia akan menghadirkan rahmat, sementara kepemimpinan yang dikuasai akhlaq rendah justru mengundang bencana.
Pemimpin sebagai Cermin Umat
Rasulullah bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Bukhari-Muslim).
Dalam kehidupan berbangsa, pemimpin adalah cermin bagi rakyat. Bila pemimpin jujur, rakyat belajar kejujuran. Bila pemimpin adil, rakyat merasakan kedamaian. Tetapi bila pemimpin tergelincir pada akhlaq rendah—korup, zalim, dan rakus—maka masyarakat ikut terdampak, bahkan sampai pada hilangnya kepercayaan rakyat dan munculnya gejolak sosial.
Demo Anarkis: Gejala Kehilangan Teladan
Fenomena demo anarkis yang terjadi akhir-akhir ini bisa dilihat sebagai gejala kehilangan teladan akhlaq dari para pemimpin. Aspirasi rakyat yang tak ditampung dengan bijak, rasa keadilan yang diabaikan, dan kebijakan yang lebih menguntungkan segelintir elit membuat protes berubah menjadi kemarahan.
Namun Islam mengajarkan, jalan damai dan adab mesti tetap dijaga. Rasulullah memberi teladan bagaimana menyelesaikan konflik dengan hikmah, mendengar suara rakyat kecil, dan mengutamakan maslahat umum di atas kepentingan pribadi.
Spirit Maulid: Kontras dengan Realitas
Dalam momentum Maulid, mari kita bandingkan:
Nabi hidup sederhana, sementara banyak pemimpin kita menampilkan gaya hidup berlebihan.
Nabi menolak segala bentuk kecurangan, sementara praktik korupsi masih merajalela.
Nabi memimpin dengan kasih sayang, sementara rakyat hari ini sering merasa ditinggalkan.
Kontras ini adalah panggilan dakwah: bangsa butuh pemimpin yang kembali meneladani akhlaq Nabi, bukan hanya pemimpin yang piawai berpolitik, tetapi lemah dalam amanah moral.
Refleksi untuk Umat
Momentum Maulid Nabi 1447 H mengajarkan kita bahwa perubahan besar bangsa dimulai dari akhlaq. Jika pemimpin memperbaiki akhlaq, maka rakyat akan merasakan keberkahan. Jika rakyat menjaga akhlaq, maka lahir suasana damai yang menolak anarkisme.
Adat Minangkabau pun menegaskan falsafah luhur: “Nan sabana rajo, rajo nan bijaksano; nan sabana penghulu, penghulu nan adil”. Artinya, kepemimpinan yang sejati adalah yang berlandaskan kebijaksanaan dan keadilan.
Penutup
Akhlaq rendah pemimpin adalah pangkal bencana sosial, politik, dan moral bangsa. Sebaliknya, akhlaq mulia pemimpin adalah pintu rahmat dan kesejahteraan.
Di saat kita memperingati Maulid Nabi 1447 H, marilah kita jadikan keteladanan beliau sebagai pedoman. Pemimpin meneladani sifat jujur, adil, dan amanah Rasulullah; rakyat meneladani kesabaran, ketaatan, dan keikhlasan umat awal Islam.
Dengan begitu, insyaAllah bangsa ini akan terhindar dari bencana dan digiring menuju rahmat Allah yang luas. DS. 05092025.
Dapatkan artikel terbaru langsung ke email Anda