LEGACY BUYA PERTI: Modal Sosial dan Spiritualitas Pendidikan Islam Minangkabau
Nov 09, 2025 Nov 09, 2025
LEGACY BUYA PERTI: Modal Sosial dan Spiritualitas Pendidikan Islam Minangkabau
LEGACY BUYA PERTI: Modal Sosial dan Spiritualitas Pendidikan Islam Minangkabau

LEGACY BUYA PERTI: Modal Sosial dan Spiritualitas Pendidikan Islam Minangkabau

Oleh:
Duski Samad
Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang

Abstrak

Artikel ini mengulas warisan (legacy) Buya K.H. Roesli Abdul Wahid, salah satu tokoh besar generasi awal Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), yang menjadi pendiri dan inspirator Perguruan Islam PERTI Grogol Jakarta. Melalui pendekatan historis, antropologis, dan sosiologis, tulisan ini menunjukkan bahwa warisan beliau bukan hanya institusional, tetapi juga spiritual dan kultural. Empat warisan utama—kepribadian ulama Minangkabau yang berwibawa, kepemimpinan teduh, keteguhan politik, dan integritas moral—menjadi model pendidikan Islam berbasis adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Artikel ini menegaskan bahwa legacy Buya Roesli merupakan modal sosial dan spiritual bagi revitalisasi pendidikan Islam dan kebangkitan PERTI sebagai gerakan keilmuan, keumatan, dan kebangsaan.

Pendahuluan
Kata Kunci: Buya PERTI, warisan ulama, pendidikan Islam, Minangkabau, modal sosial.

Sabtu, 8 November 2025, menjadi momentum reflektif bagi keluarga besar dan civitas Perguruan Islam PERTI Grogol Jakarta. Peringatan haul Buya K.H. Roesli Abdul Wahid disatukan dengan Milad ke-67 Perguruan Islam PERTI di Jalan Tawakal 45 Tomang, Grogol, Jakarta Barat.

Acara ini dihadiri dua gubernur—Sumatera Barat dan DKI Jakarta—serta Ketua Umum Pimpinan Pusat PERTI. Lebih dari 300 anggota keluarga besar Buya Roesli hadir, menandai kesinambungan dzurriyat dan amal jariyah beliau dalam pendidikan.

Tradisi haul kerap diperdebatkan, namun dari sudut pandang spiritual dan antropologis, ia memiliki makna mendalam. Sebagaimana firman Allah dalam QS. At-Thur (52):21:

> “Dan orang-orang yang beriman dan diikuti oleh anak cucunya dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucunya dengan mereka.”

Haul bukan sekadar mengenang wafat, tetapi menyambung batin antara generasi yang telah pergi dengan generasi penerus. Dalam pandangan Islam Minangkabau, ini adalah bentuk zikir sejarah dan tazakkur sosial — mengenang ulama sebagai jalan meneguhkan nilai.

Konteks Historis dan Antropologis

PERTI lahir dari rahim pendidikan surau di Minangkabau. Gerakan ini memadukan tafaqquh fiddin dengan pembentukan karakter sosial. Dalam konteks itu, Buya Roesli Abdul Wahid menjadi figur penting dalam ekspansi PERTI ke wilayah urban Jakarta melalui pendirian Perguruan Islam PERTI Grogol tahun 1958.

Dalam perspektif antropologi agama, pendirian sekolah ini merupakan bentuk transformasi surau — dari lembaga informal ke lembaga pendidikan modern — tanpa kehilangan ruh sufistiknya. Ia menjadi simbol Islam kultural Minangkabau, di mana nilai-nilai lokal menyatu dengan visi pendidikan universal.

Koentjaraningrat (1985) menyebut proses semacam ini sebagai sinkretisme fungsional: penyesuaian nilai agama dengan budaya lokal untuk memperkuat kohesi sosial. Maka, legacy Buya Roesli bukan hanya pendidikan formal, melainkan sistem nilai yang hidup dalam masyarakat.

Empat Warisan Buya Roesli Abdul Wahid

1.Performance Orisinal PERTI

Buya Roesli memiliki gaya khas yang merepresentasikan habitus ulama Minangkabau: berpakaian jas, bersarung, berpeci hitam, dan bersorban di leher. Penampilan ini bukan sekadar busana, melainkan simbol etos ulama yang menyeimbangkan antara dunia modern dan tradisi keislaman.

Dalam teori simbolik Clifford Geertz (1973), bentuk simbol seperti ini mencerminkan “agama sebagai sistem makna yang dihidupi”. Jas melambangkan modernitas, sorban melambangkan spiritualitas, dan peci melambangkan nasionalisme. Ketiganya berpadu dalam figur Buya Roesli.

2.Pribadi Santun dan Berwibawa

Buya Roesli dikenal lembut dalam tutur kata, tegas dalam prinsip, dan berwibawa dalam kepribadian. Ia mewariskan nilai al-adab fauqal ‘ilm — adab di atas ilmu. Dalam interaksi sosial, beliau mempraktikkan insaniyyah (kemanusiaan), bukan hanya ‘alimiyyah (keilmuan).

Dalam kajian psikologi pendidikan Islam, kepribadian Buya Roesli menunjukkan tipe pemimpin empatik (empathic leadership) yang membangun wibawa bukan lewat kekuasaan, tapi keteladanan (Bandura, 1986). Hal ini menjadi teladan bagi pendidik masa kini.

3.Pemimpin Teguh dan Teduh.

Sebagai Ketua Umum PERTI sekaligus tokoh dalam fusi politik Islam menuju PPP, Buya Roesli menunjukkan kemampuan membaca zaman tanpa kehilangan prinsip. Ia bukan politisi yang mencari kuasa, melainkan ulama yang menuntun arah kebijakan umat.

Sosiolog agama seperti Bryan Turner (1991) menjelaskan tipologi ulama-politikus sebagai figur moral yang menjaga keseimbangan antara otoritas agama dan tuntutan sosial. Buya Roesli menampilkan model ini secara khas: politik menjadi wasilah dakwah, bukan tujuan duniawi.

4.Ulama Bertalenta Komplit.

Lulusan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Tabek Gadang Payakumbuh ini adalah simbol ulama yang komplit: ahli agama, organisatoris, dan politisi. Dalam konteks sejarah sosial Minangkabau, ia menjadi cerminan kaum tuo progresif — kelompok ulama yang mempertahan kan tradisi sambil beradaptasi dengan perubahan.

Menurut Nurcholish Madjid (1992), model ulama seperti ini adalah kunci pembaharuan Islam: ulama yang berpikir terbuka, berakar dalam tradisi, namun bergerak ke depan. Maka, legacy Buya Roesli sejatinya adalah model pendidikan integratif yang menggabungkan dzikir, pikir, dan amal.

Analisis Sosiologis dan Ilmiah

Secara sosiologis, warisan Buya Roesli merupakan modal sosial yang memperkuat kohesi internal PERTI. Pierre Bourdieu (1990) menjelaskan bahwa social capital berupa kepercayaan, nilai bersama, dan simbol kehormatan memiliki kekuatan besar dalam mempertahankan komunitas.

PERTI bertahan bukan hanya karena sistem pendidikan, tetapi karena kapital simbolik seperti wibawa ulama, ketulusan pengabdian, dan jaringan santri-alumni yang luas. Inilah bentuk sosiologi moral Islam — di mana nilai keulamaan menjadi poros sosial.

Secara ilmiah, warisan ini juga menjadi spiritual capital (modal spiritual) yang memotivasi gerakan pendidikan Islam. Spiritulitas dalam konteks ini bukan hanya ibadah personal, tetapi energi kolektif yang menggerakkan solidaritas dan perubahan sosial.

Relevansi untuk Pendidikan Islam Kontemporer

Di tengah krisis moral, hilangnya keteladanan, dan fragmentasi lembaga Islam, legacy Buya Roesli menjadi pelajaran berharga. Ada tiga pesan utama yang relevan untuk pendidikan masa kini:

1.Integrasi Ilmu dan Adab — Pendidikan harus mengembali kan posisi adab sebagai fondasi ilmu.

2.Kepemimpinan Spiritual — Pemimpin pendidikan bukan sekadar manajer, tetapi murabbi yang membimbing dengan hati.

3.Kemandirian Organisasi Islam — Lembaga seperti PERTI harus menghidupkan kembali semangat self-help dan collective trust.

Warisan Buya Roesli mengingatkan kita bahwa madrasah bukan hanya bangunan, tapi ekosistem nilai yang mencerdaskan lahir dan batin.

Kesimpulan

Legacy Buya K.H. Roesli Abdul Wahid tidak sekadar peninggalan historis, tetapi sistem nilai yang hidup dalam denyut pendidikan Islam Minangkabau. Ia mengajarkan bahwa keulamaan sejati adalah keseimbangan antara ilmu, amal, dan akhlak; antara dunia dan akhirat; antara tradisi dan kemajuan.

Enam puluh tujuh tahun Perguruan Islam PERTI Grogol berdiri menjadi bukti nyata bahwa cita-cita beliau masih relevan dan berkelanjutan. Sebagaimana dikatakan oleh Ibn Khaldun, “Tradisi adalah tali yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan.”

Maka, tugas generasi kini adalah melanjutkan warisan itu dengan memelihara nilai, memperluas manfaat, dan menebar hikmah bagi umat dan bangsa.


Daftar Pustaka

Al-Qur’an, Surah At-Thur (52): 21.

Bandura, A. (1986). Social Foundations of Thought and Action: A Social Cognitive Theory. Prentice Hall.

Bourdieu, P. (1990). The Logic of Practice. Stanford University Press.

Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. Basic Books.

Koentjaraningrat. (1985). Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Gramedia.

Madjid, N. (1992). Islam, Doktrin dan Peradaban. Paramadina.

Turner, B. (1991). Religion and Social Theory. Sage Publications.

Samad, D. (2025). Dari Pendidikan Surau untuk Bangsa: Inspirasi dari Buya Roesli Abdul Wahid dan PERTI. Naskah Pidato Grogol.

Please Login to comment in the post!
Relate Post
Berita Nasional
KERAGAMAN ITU POTENSI

Read More
Berita Nasional
WAFATNYA ULAMA LIMA ZAMAN BUYA BAGINDO M.LETT...

Read More
Berita Nasional
BASAPA: TRADISI, PROSESI DAN REKOMENDASI

Read More
Berita Nasional
SEJARAH "TABUIK PIAMAN" DAN PERAN DAKWAH SYEI...

Read More
Berita Nasional
KONTROVERSINYA AL HAJJAJ BIN YUSUF ATS TSAQAF...

Read More
" />