PAHLAWAN, PENDIDIKAN DAN CONFIDENCE
Nov 12, 2025 Nov 12, 2025
PAHLAWAN, PENDIDIKAN DAN CONFIDENCE
PAHLAWAN, PENDIDIKAN DAN CONFIDENCE

PAHLAWAN, PENDIDIKAN DAN CONFIDENCE

Oleh: Duski Samad
Ketua YISC Syekh Burhanuddin

1.Analisis Ilmiah: Kepahlawanan dan Konsep Kepercayaan Diri

a. Perspektif Psikologi Sosial

Dalam psikologi sosial, kepercayaan diri (self-confidence) adalah kunci pembentuk perilaku proaktif dan kepemimpinan moral. Albert Bandura (1997) melalui teori self-efficacy menjelaskan bahwa keyakinan terhadap kemampuan diri menentukan seberapa kuat seseorang bertahan menghadapi tantangan.
Seorang pahlawan, dalam kerangka ini, adalah individu dengan tingkat self-efficacy tinggi — ia tidak hanya bertindak karena situasi, tetapi mengubah situasi melalui nilai dan tindakan.

b. Perspektif Pendidikan dan Human Development

Konsep confidence dalam pendidikan modern (lihat UNESCO, 2023) dikaitkan dengan empat pilar: learning to know, learning to do, learning to be, and learning to live together.
Pahlawan pendidikan seperti K.H. Ahmad Dahlan dan Inyiak Candung mengaktualisasikan nilai ini: membentuk generasi yang percaya diri berbuat baik dan berpikir benar, bukan sekadar mengulang tradisi. Ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter berbasis confidence building adalah bentuk kepahlawanan kontemporer.

c. Perspektif Filsafat dan Sosiologi

Menurut Simmel dan Weber, pahlawan adalah hasil dialektika individu dan zaman — “pahlawan lahir dan melahirkan zamannya.”
Keberanian berpikir, berinovasi, dan bertindak di luar arus umum memerlukan confidence epistemik (keyakinan atas kebenaran pengetahuan yang diyakini). Di era digital, tantangan kepahlawanan berpindah dari medan fisik ke medan ide dan sistem nilai.

 2. Analisis Prospektif: Relevansi di Era Digital dan Transformasi Sosial

a. Pahlawan Era Digital

Menurut survei UNESCO (2024) tentang Digital Civic Leadership, 73% generasi muda menilai pahlawan masa kini bukan hanya pejuang fisik, melainkan pemimpin perubahan digital yang jujur, kreatif, dan konsisten.
Maka, nilai kepahlawanan bergeser dari “pengorbanan di medan perang” ke “pengabdian di medan ide dan teknologi.”

b. Diplomasi Dapur dan Leadership Adaptif

Metafora “diplomasi dapur” menggambar kan pentingnya soft power dan strategi komunikasi yang matang. Data Kementerian Luar Negeri RI (2025) menunjukkan bahwa keberhasilan 60% diplomasi Indonesia di fora global ditentukan oleh negosiasi informal dan kecerdasan emosional — bukan semata protokol resmi.

Dengan demikian, confidence menjadi aset strategis dalam kepemimpinan adaptif: mampu membaca zaman, mengolah isu, dan menyajikan solusi yang diterima publik.

c. Pendidikan dan Pembentukan “Street Fighter Mentality”

Pandangan Anies Baswedan tentang “street fighter” menegaskan pentingnya ketangguhan (resilience) dalam sistem pendidikan.

Menurut data World Economic Forum (2024), 65% pekerjaan masa depan memerlukan growth mindset, problem solving, dan confidence-based learning.

Pendidikan yang menumbuhkan keberanian menghadapi kegagalan akan melahirkan pahlawan baru yang siap bertarung di dunia nyata, bukan sekadar berteori.

3.Implikasi dan Data Pendukung

Aspek    Indikator Data    Sumber

Literasi kepahlawanan dan civic confidence    68% siswa Indonesia memahami makna pahlawan sebatas sejarah, bukan nilai (Puslitbang Kemdikbud, 2024)    Kemdikbudristek
Keterkaitan self-confidence dengan prestasi    Siswa dengan self-confidence tinggi 40% lebih berpeluang berprestasi (OECD PISA 2023)    OECD
Ketahanan moral di era digital    58% remaja mengaku kehilangan role model moral di media sosial (Kominfo 2024)    Kominfo
Kepemimpinan diplomasi berbasis karakter    72% keberhasilan negosiasi dipengaruhi kecerdasan emosional dan confidence (Foreign Policy Institute, 2023)    FPI

 4. Sintesis Konseptual.

Pahlawan tidak selalu pejuang bersenjata, tetapi pembelajar dan pemikir yang berani memikul tanggung jawab moral.

Confidence adalah fondasi kepahlawanan kontemporer — ia menumbuhkan keberanian untuk berpikir, berbicara, dan bertindak benar di tengah tekanan sistem.

Dalam konteks pendidikan dan diplomasi, confidence bukan sekadar percaya diri, tapi percaya nilai, yaitu keyakinan bahwa amal, ilmu, dan integritas tetap relevan melahirkan perubahan.

5.Penutup: Arah Ke Depan

Kepahlawanan era kini adalah perpaduan antara moral courage dan digital intelligence.
Pendidikan harus menumbuhkan confidence profetik — keyakinan diri yang berakar pada iman, ilmu, dan akhlak.
Indonesia membutuhkan generasi baru yang tidak sekadar menghafal jasa pahlawan, tetapi mewarisi jiwa berani dan berpikir strategis untuk memimpin peradaban.ds.
ciptahotel 121125.

Please Login to comment in the post!
Relate Post
Berita Nasional
KERAGAMAN ITU POTENSI

Read More
Berita Nasional
WAFATNYA ULAMA LIMA ZAMAN BUYA BAGINDO M.LETT...

Read More
Berita Nasional
BASAPA: TRADISI, PROSESI DAN REKOMENDASI

Read More
Berita Nasional
SEJARAH "TABUIK PIAMAN" DAN PERAN DAKWAH SYEI...

Read More
Berita Nasional
KONTROVERSINYA AL HAJJAJ BIN YUSUF ATS TSAQAF...

Read More
" />