INVESTASI PERADABAN SYEKH BURHANUDDIN (2)
Jan 26, 2026 Jan 26, 2026
INVESTASI PERADABAN SYEKH BURHANUDDIN (2)
INVESTASI PERADABAN SYEKH BURHANUDDIN (2)

INVESTASI PERADABAN SYEKH BURHANUDDIN (2)
Ruang edukasi peradaban (ilmu–adab–tata kelola).

Oleh: Duski Samad
Pengkaji Warisan Syekh Burhanuddin Ulakan 

1) Fondasi Nash: Ziarah sebagai Tazkiyah, Bukan Kultus.

A. Arah ziarah: mengingat akhirat dan meneladani orang saleh

Di dalam tradisi Islam, ziarah kubur dipahami sebagai wasilah pengingat kematian dan pelembut hati. Hadis yang masyhur menyebutkan makna: ziarah kubur mengingatkan pada akhirat (riwayat Muslim). Ini landasan untuk menempatkan maqam sebagai ruang muhasabah, bukan ruang “mencari kuasa selain Allah”.

B. Tauhid dan “ibadah murni”

Kaedahnya sederhana:
Doa, isti’anah, istighatsah hanya kepada Allah.
Ziarah adalah adab, bukan ritus pengganti ibadah.
Menghormati ulama bukan berarti mengultuskan.

Inilah yang Bapak ringkas dengan frasa kuat: “masyarakat ramah dan ibadah murni.”
Ramahnya sosial, murninya tauhid.

2) Kerangka Ilmiah Wisata Religius: Bukan Sekadar “Datang dan Foto”

Dalam kajian pariwisata, religious tourism/pilgrimage dipahami sebagai perjalanan yang didorong motif religius (ziarah, ritual, kontemplasi), sekaligus sering membawa motifbudaya–sejarah–identitas. Literatur ilmiah menegaskan motivasi pengunjung situs religi biasanya campuran: spiritual, tradisi, budaya, lanskap, dan pengalaman komunitas. 

Lembaga pariwisata dunia (UN Tourism/UNWTO) juga menekankan wisata religi dapat menjadi jembatan pemahaman budaya lintas kelompok bila dikelola dengan benar. 

Implikasi ilmiahnya untuk Maqam Syekh Burhanuddin:

Pengunjung butuh makna (meaning-making), bukan hanya akses.

Destinasi perlu interpretasi (narasi sejarah, sanad ilmu, adab ziarah).

Risiko destinasi: komersialisasi berlebihan, kepadatan, sampah, dan “ritual liar” jika tanpa panduan.

3) Kerangka Kebijakan: Pariwisata Wajib Menjunjung Norma Agama & Budaya

Untuk konteks Indonesia, UU Kepariwisataan menegaskan penyelenggaraan pariwisata harus menjunjung norma agama dan nilai budaya, serta berorientasi keberlanjutan. 

Jika kawasan maqam diposisikan sebagai warisan budaya (atau terhubung dengan kawasan/artefak bernilai cagar budaya), UU Cagar Budaya memberi bingkai “pelindungan–pengembangan–pemanfaatan” secara bertanggung jawab. 

Maknanya: pengembangan maqam tidak boleh lepas dari: perlindungan kesakralan, pendidikan publik, manfaat sosial-ekonomi yang adil, pelestarian lingkungan dan budaya.

4) Model Konseptual “Investasi Peradaban”: 3 Nilai + 3 Infrastruktur

A. Tiga Nilai Inti (nilai yang diwariskan)

1.Ilmu (sanad, kitab, tradisi surau)

2.Adab (akhlak sosial, ketertiban, kehormatan ruang sakral)

3.Tauhid (ibadah murni, anti-syirik, anti-khurafat)

B. Tiga Infrastruktur Peradaban (yang harus dibangun)

1.Tata kelola destinasi (governance)

2.Ekosistem layanan umat (hospitality yang beradab)

3.Sistem edukasi (interpretasi & literasi)

Kalau 3 nilai inti kuat tapi infrastrukturnya lemah, destinasi jadi semrawut.
Kalau infrastrukturnya megah tapi nilai inti kabur, destinasi jadi “industri” tanpa ruh.

5) Strategi Pengembangan: Dari “Wisata Ramai” ke “Ziarah Bernilai”

Saya susun strateginya dalam 7 paket kerja (praktis, bisa dijadikan program pemerintah nagari–pemda–pengelola–ulama).

1) SOP Adab Ziarah (Ibadah Murni)

Panduan ringkas di pintu masuk: niat, adab, doa ma’tsur, larangan praktik menyimpang.

Penguatan peran muballigh/tuanku sebagai “penjaga nilai”, bukan sekadar seremonial.

Kanal konsultasi: “tanya adab ziarah” (offline + QR).

Output: tertib, khusyuk, mengurangi kontroversi.

2) Zonasi Sakral–Edukasi–Publik

Zona sakral: maqam & area doa (hening, kebersihan ketat, kontrol kepadatan).

Zona edukasi: pusat informasi Syekh Burhanuddin (sejarah, sanad, tradisi surau, basapa sebagai warisan sosial).

Zona publik/UMKM: kuliner & suvenir beretika, parkir, sanitasi.

Output: kesakralan terlindungi, ekonomi tetap hidup tapi beradab.

3) Interpretasi Peradaban: “Museum Kecil / Surau Literasi”

Isi minimal:
Timeline Islamisasi Minangkabau, peran surau, jaringan tuanku.

Etika ziarah dan akhlak sosial. Koleksi narasi lokal: basapa, badikia, tradisi surau—dengan kurasi ilmiah.

Output: wisata berubah jadi “belajar” (education tourism).

4) Pelatihan Pemandu Ziarah (Guide Berbasis Adab dan Ilmu)

Modul singkat:
Sejarah dan sanad (bukan dongeng). Fiqh ziarah dan tauhid. Manajemen kerumunan, komunikasi empatik, layanan lansia/disabilitas.

Output: pemandu jadi agen dakwah kultural, bukan pendorong mitos.

5) Ekonomi Umat yang Adil: CBT (Community-Based Tourism)

Koperasi/kelembagaan UMKM: standar harga wajar, halal–thayyib, kebersihan.

Skema “donasi sosial transparan”: untuk kebersihan, beasiswa, perbaikan surau, bantuan fakir.

Output: masyarakat ramah karena merasa dilibatkan dan mendapat manfaat adil.

6) Kebersihan, Air, dan Sampah sebagai Ukur Iman Sosial. “Green pilgrimage”: pengurangan plastik, tempat sampah terpilah, relawan kebersihan.

Sanitasi memadai: wudhu/toilet bersih. Audit rutin kepadatan & dampak lingkungan. 

Output: maqam terjaga, peziarah nyaman, citra baik.

7) Digitalisasi Destinasi (Tanpa Menghilangkan Ruh)

QR code narasi: adab ziarah, sejarah, rute kunjungan. Kalender event basapa & kegiatan surau. Data pengunjung untuk manajemen puncak keramaian.

Output: pengelolaan modern, pengalaman lebih tertib.

6) Catatan Kritis Ilmiah: Hindari “Branding Halal” yang Kosong

Sejumlah riset mengingatkan “wisata halal” kerap dipersempit menjadi branding ekonomi-politik, padahal kuncinya justru pada praktik layanan halal dan etika di lapangan. 
Untuk Maqam Syekh Burhanuddin, yang paling penting bukan label, tapi kemurnian ibadah + adab + layanan bersih dan aman.

7) Penutup: Ukuran Sukses Investasi Peradaban

Suksesnya bukan hanya “jumlah kunjungan”, tetapi:
lebih tertibnya ibadah,
lebih cerdasnya pemahaman publik,
lebih ramahnya masyarakat, lebih bersihnya lingkungan, lebih adilnya manfaat ekonomi, serta makin kuatnya tradisi surau sebagai pusat adab dan ilmu.

Please Login to comment in the post!
Relate Post
Berita Nasional
KERAGAMAN ITU POTENSI

Read More
Berita Nasional
WAFATNYA ULAMA LIMA ZAMAN BUYA BAGINDO M.LETT...

Read More
Berita Nasional
BASAPA: TRADISI, PROSESI DAN REKOMENDASI

Read More
Berita Nasional
SEJARAH "TABUIK PIAMAN" DAN PERAN DAKWAH SYEI...

Read More
Berita Nasional
KONTROVERSINYA AL HAJJAJ BIN YUSUF ATS TSAQAF...

Read More
" />