PADANG PARIAMAN BANGKIT LEBIH CEPAT, TANGGUH DAN BERMARTABAT
Oleh: Duski Samad
Guru Besar UIN Imam Bonjol, dan Ketua Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin Padang Pariaman, Sumatera Barat
Disampaikan pada Peringatan Hari Jadi Padang Pariaman ke-193
Ahad, 11 Januari 2026.
Yang saya hormati Gubernur Sumatera Barat, Bupati Padang Pariaman beserta jajaran, Pimpinan DPRD dan seluruh anggota, unsur Forkopimda, Ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, serta seluruh masyarakat Padang Pariaman yang saya muliakan.
Hari Jadi ke-193 Kabupaten Padang Pariaman bukan sekadar peringatan usia, tetapi titik baretong—titik muhasabah kolektif. Di usia yang semakin matang ini, kita diuji bukan hanya oleh zaman, tetapi juga oleh bencana dan perubahan sosial yang begitu cepat.
Orang tua kita mengingatkan: “Alam takambang jadi guru.”
Bencaa, krisis, dan penderitaan bukan hanya peristiwa, tetapi pelajaran—jika kita mau belajar dengan jujur dan rendah hati.
Modal Sosial Urang Piaman: Bukti Nyata, Bukan Sekadar Narasi
Padang Pariaman dianugerahi modal sosial yang kokoh: hiduik badunsanak, gotong royong, badoncek, dan solidaritas rantau. Nilai-nilai ini bukan slogan, tetapi teruji secara empirik.
Gempa besar Sumatera Barat tahun 2009 menjadi saksi. Rumah-rumah warga, surau, dan fasilitas sosial lebih dahulu pulih dibandingkan banyak infrastruktur negara.
Ini membenarkan pituah adat: “Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang.”
Inilah kekuatan sejati urang Piaman: kebersamaan yang lahir dari iman, adat, dan rasa sepenanggungan.
Apresiasi Kepemimpinan di Tengah Bencana
Dalam konteks ini, patut kita berikan penghargaan yang jujur dan bermartabat kepada Bupati Padang Pariaman, Wakil Bupati dan semua stakeholder. Di saat bencana datang bertubi- tubi, masyarakat menyaksikan langsung kehadiran pemimpin—turun ke lapangan, berdiri bersama rakyat, mengambil risiko, dan bekerja tanpa banyak retorika.
Pituah Minangkabau mengajarkan: “Kapalo samo hitam, hati samo putih.”
Kepemimpinan dalam bencana bukan tentang pencitraan, tetapi keberpihakan nyata pada keselamatan dan martabat rakyat. Dan itu telah ditunjukkan dengan kesungguhan oleh Bupati, Wakil Bupati, semua jajaran, tokoh masyarakat, perantau dan umat dari berbagai daerah.
Namun adat juga mengingatkan kita: “Nan elok dek awak, katuju dek urang.”
Apresiasi tidak boleh menghentikan ikhtiar. Justru ia harus menjadi energi moral untuk bekerja lebih disiplin, lebih adil, dan lebih berani melindungi masyarakat.
Ancaman Ke Depan: Alam dan Kelalaian Manusia.
Kita harus jujur mengakui bahwa ancaman ke depan semakin berat. Perubahan iklim, degradasi lingkungan, alih fungsi lahan, dan lemahnya disiplin sosial telah memperbesar risiko banjir, longsor, dan krisis ekologis.
Orang Minang sudah lama mengingatkan: “Jangan sampai rusak aia dek talampau, rusak raso dek takarajo.”
Allah SWTmenegaskan dalam QS. Ar-Rūm ayat 41 bahwa kerusakan bukan semata kehendak alam, tetapi buah dari kelalaian manusia. Maka mitigasi bencana bukan hanya urusan teknis, tetapi urusan moral dan spiritual.
Bangkit Bermartabat:
Adab adalah Inti Peradaban
Padang Pariaman tidak cukup hanya bangkit secara fisik. Kita harus bangkit sebagai masyarakat bermartabat. “Adat dipakai baru, syarak dipakai sampai mati.”
Adab, adat, etika, dan akhlak mulia adalah inti martabat. Apa artinya bangunan megah jika jiwa rapuh? Apa artinya ekonomi tumbuh jika moral runtuh?
Empat Virus Perusak Keadaban Sosial
Di tengah bencana sekalipun, ada virus sosial yang terus menggerogoti keadaban yang mesti dicegah secara bersama.
1.Agama yang berhenti di ritual, tidak menumbuhkan empati, kejujuran, dan tanggung jawab sosial. “Sarak mangato, adat mamakai.” lebih banyak dalam sambutan, pidato dan pemanis kata.
Faktanya jumlah masyarakat yang ke masjid saat Jumat saja tidak sebanding dengan jumlah kaum laki-laki sekitar itu. Seperti tak ada beda antara hari Jumat dengan hari biasa. Ramadhan bisa juga ukuran lapau justru lebih ramai dibanding surau, mushalla dan masjid, mengapa dan siapa yang bertanggung jawab?
2.Krisis akhlak generasi, ditandai meningkatnya narkoba, kekerasan seksual, dan kejahatan remaja. “Anak dipangku, kamanakan dibimbiang.”
Masih ada, tetapi sebatas adat, degradasi dalam nyatanya.
3.Pergeseran nilai ABS-SBK menjadi pragmatisme, hedonisme, suap, pungli, dan budaya mubazir. “Elok di ateh, rusak di bawah.”
Transaksi uang dalam melaksanakan tradisi, adat dan kebiasaan seperti uang urak selo, uang hilang, uang jemputan dan sejenisnya adalah indikasi uang sudah mengeser alua, patuik dan mungkin.
Baralek adat, pelaksanaan sering merusak adat, orgen tunggal pakaian minim, alkohol, narkoba dan ada yang berujung amoral dan perkelihan. Pemerintah daerah sudah melarang, ayo masyarakat mari kita mitigasi generasi muda dari bencana moral.!
4.Krisis keteladanan, ketika pemimpin dan tokoh sulit dijadikan contoh. “Kato indak sabana kato, laku indak sabana laku.”
Sejak lama pemimpin forma umara, pemimpin agama, ulama dan tokoh masyarakat di ranah ini adalah kekuatan yang saling menopang, tali tigo sapilin, segi tiga sama sisi yang berpadu erat.
Penutup: Bangkit Lebih Cepat, Tangguh, dan Bermartabat
Hari ini kita sepakat: Padang Pariaman harus bangkit lebih cepat, tetapi juga lebih arif. Lebih tangguh menghadapi alam, dan lebih bermartabat dalam nilai. “Kok kokoh nan di dalam, indak goyang nan di lua.”
Mari kita jaga Padang Pariaman bukan hanya sebagai wilayah administratif, tetapi sebagai rumah peradaban—tempat adat dihormati, agama dihidupi, dan pemimpin diteladani.
Dirgahayu Kabupaten Padang Pariaman ke-193.
Bangkitlah lebih cepat, tangguh menghadapi zaman, dan bermartabat dalam nilai.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.DS. 10012026.
Dapatkan artikel terbaru langsung ke email Anda