KRISIS MORAL DAN PERADABAN MINANGKABAU
Oleh: Duski Samad
Ketua Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin
Tulisan ini hadir sebagai sahutan atas tanggapan generasi muda terhadap artikel penulis berjudul Akhlak hilang, bangsa goyang di link sigi24.com ....izin prof, kami nan mudo2 ko, tadinyo sangat bermoral dan berakhlak, tapi di tampaik kami tingga ko, urang yang mengaku niniak mamak, tidak mencerminkan simbol2 niniak mamak dalam prilakunya sehari2.
Disini, kalo kepentingannya merasa terganggu, dia lapor polisi, dan adu domba.
Makanya kami nan mudo2 ko Ndak maharagoi.
Mamak kencing berdiri, kamanakan kencing berlari .
Imam Syafi'i berkata, sombong kepada orang yang sombong itu sedeqah.
Jika Islam hanya sekedar sholat dan muamalah niscaya nabi tidak akan ada dimedan tempur.
Kalo masyarakat, yg salah mungkin kita bisa maafkan.
Tapi kalo pemimpin yang dzholim, wajib kita lawan.
Memang tema artikel ini mencemaskan dan bisa jadi oleh pihak tertentu itu dianggap berlebihan dan bombastis. Namun, itu hadir mencermati realitas degradasi moral dan peradaban luhur Minangkabau yang menjakiti hampir semua elemen masyarakat, tak terkecuali tokoh moral dan sipritual sekalipun.
Narasi, diksi, kritik, opini dan pernyataan tokoh publik sepertinya lepas dari koridor peradaban, alua jo patuik, tak terlalu mempertimbangkan dampak jangka panjang, ba kato malam danga-danga an, ba kato siang liek-liek an seolahnya terabaikan.
TELADAN AKHLAK
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu...”QS. Al-Ahzab: 21. Ayat di atas adalah landasan normatif untuk meneladani akhlak Nabi sebagai dasar rekonstruksi moral publik.
"Tegakkan salat, suruh kepada yang makruf, cegah dari yang mungkar, dan bersabarlah atas apa yang menimpamu..."QS. Luqman: 17-19 makna nash di atas solusi krisis moral publik. Dakwah amar ma’ruf nahi mungkar perlu difungsikan secara sosial dan edukatif.
Larangan mencela, mengolok, menggunjing: ini sumber rusaknya hubungan sosial yang perlu dikoreksi lewat pembinaan moral publik yang sejak awal sudah dengan tegas dilarang Allah swt di antaranya QS. Al-Hujurat: 11-12.
Hadis Nabi SAW: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad) adalah petunjuk tegas mencegah krisis akhlak. Krisis moral adalah krisis yang menjadi tujuan kenabian untuk dikembalikan ke pendidikan akhlak.
Takutlah kalian kepada Allah di mana pun kalian berada, dan ikutilah keburukan dengan kebaikan, maka itu akan menghapusnya.” (HR. Tirmidzi)
Ini bentuk solusi personal dengan membangun taqwa sebagai basis kontrol moral individu.
Pandangan Ulama
Fatwa MUI tentang Etika Digital dan Media Sosial (2017)
melarang penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah.
Mengarahkan umat untuk bermuamalah secara beradab, adil, dan santun dalam ruang publik virtual.
Fatwa Tentang Pendidikan Karakter (Forum Rektor PTKIN):
Menekankan pentingnya integrasi antara pendidikan agama dan penguatan etika publik.
KH. Hasyim Asy’ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim menegaskan solusi moral dimulai dari adab guru dan murid. Institusi pendidikan tidak boleh hanya mengejar nilai akademik tapi juga adab.
Psikologi, Pendidikan, Filsafat Moral)
Psikologi Moral.
Lawrence Kohlberg tentang Teori Tahap Perkembangan Moral menulis bahwa masyarakat banyak terjebak di tahap konvensional: moral hanya berlaku jika dilihat orang lain.
Solusinya naikkan kesadaran moral ke tingkat post-konvensional berbasis prinsip universal dan nilai agama.
Pendidikan Karakter.
Hasil riset menunjukkan bahwa pemisahan antara nilai-nilai agama dan kehidupan sosial menyuburkan krisis moral.
Solusinya pendidikan akhlak integratif, berbasis role model dan komunitas teladan.
Filsafat Etika deontologis (Kant) menyatakan bahwa tindakan bermoral bukan karena manfaatnya, tapi karena kewajiban moral. Oleh karenya diperlukan penguatan etika normatif di ruang publik, bukan sekadar kalkulasi untung rugi.
Analisis Sosiologis.
Krisis Moral sebagai Gejala Sosial menurut Émile Durkheim (Anomie):
Ketika norma dan nilai sosial melemah, masyarakat mengalami disorientasi moral (anomie), yang berdampak pada kekerasan, penyimpangan sosial, dan disintegrasi.
Penyebab Struktural adalah fragmentasi komunitas. Hilangnya fungsi lembaga adat/agama sebagai agen sosialisasi moral. Disfungsi keluarga dan media digital yang bebas nilai.
Solusi Sosiologis:
Revitalisasi Komunitas Moral:
Lembaga seperti masjid, surau, pesantren, karang taruna, dan organisasi keagamaan perlu diperkuat sebagai pilar moral publik.
Pemimpin sebagai Role Model Moral: Pemimpin masyarakat, ulama, dan tokoh publik harus tampil dengan integritas tinggi.
Kampanye Sosial dan Regulasi Etika Publik: Edukasi publik secara masif (termasuk media sosial). Penegakan aturan etik (kode etik ASN, media, pejabat publik).
Krisis moral publik adalah gejala multidimensi: spiritual, normatif, dan struktural. Maka solusinya pun harus bersifat komprehensif:
Nash tegaskan kembali pentingnya akhlak Islam (QS. Al-Ahzab:21). Fatwa: Tegas pada nilai-nilai etika publik dalam ruang digital dan sosial. Ilmiah: Pendidikan karakter harus berbasis nilai agama dan prinsip etika universal. Sosiologis: Bangun ekosistem moral publik dengan penguatan komunitas, keluarga, dan institusi.
PERADABAN MINANGKABAU
Peradaban Minangkabau adalah sistem kehidupan masyarakat Minangkabau yang terbentuk dari gabungan nilai adat, agama, budaya, dan struktur sosial yang telah berkembang secara berkelanjutan sejak berabad-abad lamanya di wilayah Sumatera Barat dan sekitarnya.
Peradaban Minang merupakan salah satu peradaban etnis yang paling kompleks, tahan uji zaman, dan masih hidup hingga kini.
Ciri-Ciri Pokok Peradaban Minangkabau.
1.Falsafah ABS–SBK (Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah)
Falsafah ini menjadi fondasi moral dan hukum sosial masyarakat. Adat Basandi Syarak: adat mesti tunduk dan bersumber dari agama (Islam)
Syarak Basandi Kitabullah: syariat Islam bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis“Syarak mangato, adat mamakai”
(Makna: Syarak memberi hukum, adat yang menjalankannya).
3.Sistem Matrilineal
Garis keturunan ditarik dari ibu (bundo kanduang). Anak-anak menjadi anggota suku ibunya Harta pusaka turun dari mamak (paman) ke kemenakan (keponakan laki-laki dari saudara perempuan).
Surau Sebagai Pusat Peradaban.
Surau bukan hanya tempat ibadah, tapi pusat pendidikan, tempat tinggal pemuda, dan lembaga pembinaan moral serta spiritual. Melahirkan banyak ulama besar, sastrawan, dan pejuang bangsa
4.Struktur Sosial Adat yang Rapi.
Peradaban ini Dibangun dengan sistem Limbago Adat seperti:
Ninik Mamak (pemangku adat)
Alim Ulama (pembimbing syarak)
Cadiak Pandai (intelektual adat)
Bundo Kanduang (tokoh perempuan adat). Parik Paga Nagari (penjaga keamanan moral).
5.Budaya Musyawarah dan Demokrasi Kultural.
Filosofi "Baiyo Batido, Tali Tigo Sapilin" Setiap keputusan penting dalam nagari diambil melalui musyawarah mufakat antar unsur pemimpin adat, agama, dan cerdik pandai
Kontribusi Peradaban Minangkabau untuk Indonesia
Melahirkan tokoh nasional: Bung Hatta, Tan Malaka, Buya Hamka, Sutan Sjahrir, dan banyak lainnya
Membentuk semangat merantau dan berdagang
Mengintegrasikan Islam ke dalam sistem sosial dan budaya lokal. Membangun jaringan pendidikan keulamaan dan kebangsaan.
Nilai Kunci dalam Peradaban Minangkabau
“Kato nan ampek”: kato mandaki, kato mandata, kato manurun, kato malereang “Nan sabana adat, indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan”“Malapeh dari adat, hilang pangulu” (Adat adalah batas tertinggi tingkah laku)
Peradaban Minangkabau adalah peradaban Islamik, adatiah, dan egaliter yang masih kokoh meski menghadapi modernisasi. Ia menawarkan model masyarakat berkarakter, berbasis nilai, dan kolektifitas sosial yang bisa menjadi inspirasi nasional dalam menghadapi krisis moral dan identitas zaman kini.
ANALISIS KRISIS MORAL PUBLIK
I. Analisis Antropologis: Moralitas dalam Konteks Budaya Minangkabau.
1.Minangkabau: Masyarakat Berbasis Nilai.Minangkabau dikenal sebagai masyarakat adat matrilineal yang religius, dengan sistem nilai yang berakar pada "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK)". Dalam sistem ini, moralitas tidak hanya dimaknai sebagai etika personal, tetapi bagian dari kewajiban adat dan syarak yang mengikat komunitas. Moral bukan urusan pribadi saja, tetapi urusan nagari.
2.Pilar Antropologis Moral Minangkabau. Aspek Penjelasan Adat dan Budaya Adat Minang menekankan keadaban, sopan santun, musyawarah, dan tanggung jawab kolektif. Moral rusak dianggap "merusak malu kaum".Limbago Adat" Fungsi moral dijaga oleh ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, dan bundo kanduang yang disebut "Tali Tigo Sapilin".
Sanksi Sosial Dalam masyarakat tradisional, pelanggaran moral dikenai sanksi sosial yang kuat: dikucilkan, ditengahi di balai adat, atau dimediasi melalui musyawarah.
Ritual dan Simbol Upacara adat seperti batagak gala, baralek, dan mambangkik batang tarandam adalah sarana pendidikan nilai moral kepada generasi muda.
II. Krisis Moral Publik dalam Perspektif Peradaban Minangkabau
1.Tanda Krisis
Lunturnya nilai "malu basandi syarak, takut basandi iman".
Melemahnya fungsi "kaum" dan surau sebagai penjaga moral generasi. Adat ka lapau berubah menjadi ruang gosip, bukan diskusi etika. Anak kemenakan kehilangan "panutan" karena ninik mamak tersisih dari sistem sosial modern.
2.Akar Krisis. (Antropolog Lokal).
Modernisasi dan migrasi menyebabkan terputusnya pewarisan nilai adat.
Individualisme dan digitalisasi menggantikan nilai komunal.
Otoritas moral lokal (ninik mamak dan ulama) digantikan tokoh publik atau influencer digital yang tidak berbasis nilai.
III. Strategi Solusi Berbasis Warisan Peradaban Minangkabau
Revitalisasi Sistem Adat dan Syarak.
Langkah Penjelasan Baiyo batido antara limbago adat. Perkuat kembali kolaborasi antara ninik mamak, alim ulama, dan cadiak pandai dalam mendidik moral publik.Revitalisasi surau dan balai adat. Surau bukan hanya tempat ibadah, tapi pusat pendidikan moral, musyawarah, dan pengendalian sosial.Aktualisasi pepatah petitih. Reintroduksi kearifan lokal seperti "kok malu di awak, indak ka malua di urang" sebagai basis moral kolektif.
Pendidikan Moral ala Minangkabau.
Metode pewarisan nilai lama:
Induak samang dan ninik mamak menjadi guru moral dalam keluarga besar (rumah gadang). Tambo adat dan randai sebagai sarana pembelajaran nilai. Pendidikan tidak hanya akademik, tetapi berbasis tingkah laku, sopan santun, dan tanggung jawab sosial.
Diperkuat dengan pendekatan digital: Platform edukatif dan narasi budaya berbasis media sosial dengan konten "budi dan tamsil Minang".
Peran influencer lokal yang mengangkat nilai "urang Minang nan sabana".
Kesimpulan
Krisis moral publik di Minangkabau tidak bisa diselesaikan hanya dengan hukum atau pendidikan formal. Ia memerlukan gerakan kultural yang bersumber dari kekayaan peradaban sendiri.
KONKLUSI
Krisis moral publik yang melanda masyarakat kita saat ini bukan sekadar fenomena sosial, melainkan gejala multidimensi yang mencakup dekadensi spiritual, kelunturan norma sosial, dan disfungsi struktur peradaban. Ketika para tokoh adat dan agama—yang seharusnya menjadi panutan—tidak lagi mencerminkan integritas moral yang tinggi, maka anak-anak kemenakan kehilangan arah, dan masyarakat kehilangan sandaran nilai.
Respon jujur generasi muda terhadap fenomena sosial ini—sebagaimana dikutip dalam pembukaan tulisan—menunjukkan tanda krisis kepercayaan antargenerasi dan hancurnya simbol-simbol kehormatan adat. Ketika para pemangku adat justru mempraktik kan arogansi, pengaduan ke jalur hukum tanpa musyawarah, serta tidak lagi menjadi pengayom, maka benar bahwa "mamak kencing berdiri, kemenakan kencing berlari"—sebuah pepatah yang kini bukan sekadar sindiran, tapi realitas sosial.
Namun, Islam dan Minangkabau tidak pernah kekurangan solusi. Landasan normatif Islam (QS. Al-Ahzab: 21; QS. Luqman: 17-19; QS. Al-Hujurat: 11-12), hadis Nabi SAW, dan fatwa-fatwa kontemporer menunjukkan bahwa akhlak adalah jantung dari peradaban. Dalam Islam, dakwah amar ma’ruf nahi mungkar, taqwa personal, dan etika publik merupakan strategi integral menghadapi kemerosotan moral.
Dari sisi ilmiah, pendidikan karakter yang mengintegrasi kan nilai agama, adab, dan prinsip universal perlu menjadi arus utama. Teori moral Kohlberg, etika deontologis Kant, dan sosiologi Durkheim tentang anomie semua menyimpulkan satu hal: masyarakat yang kehilangan norma, akan runtuh dari dalam.
Sementara itu, Peradaban Minangkabau sebagai entitas historis dan kultural memiliki sistem nilai dan struktur sosial yang mampu menjadi jawaban atas krisis ini. Falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK), sistem matrilineal, peran strategis surau, dan struktur sosial adat (ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang) adalah instrumen sosial yang terbukti tangguh membentuk masyarakat beradab dan religius.
Namun saat ini, warisan peradaban itu sedang dalam fase kemunduran fungsional, bukan hanya karena modernisasi, tapi karena dislokasi nilai, peminggiran otoritas lokal, dan individualisme digital.
Kesimpulan
Krisis moral publik dan peradaban Minangkabau adalah satu kesatuan masalah yang saling memperkuat. Kelemahan moral individu terakumulasi menjadi degradasi sosial, dan kehancuran struktur sosial adat melemahkan kontrol nilai dalam komunitas. Solusinya bukan sekadar pendekatan hukum atau seruan moral, tapi gerakan rekonstruksi peradaban yang berakar pada warisan luhur Minangkabau dan Islam.
Rekomendasi
• Kembali ke nilai ABS–SBK sebagai dasar rekonstruksi moral dan sosial.
• Revitalisasi fungsi surau dan balai adat sebagai pusat pendidikan moral dan spiritual.
• Penguatan sistem Tali Tigo Sapilin dalam setiap nagari: Ninik Mamak, Alim Ulama, dan Cadiak Pandai sebagai garda utama pembina moral.
• Integrasi pendidikan karakter berbasis agama, adat, dan teknologi digital dengan pendekatan kultural dan komunitas.
• Tokoh publik dan pemimpin masyarakat harus tampil sebagai role model moral yang memiliki integritas, bukan hanya popularitas.
• Masyarakat perlu bergerak bersama dalam kampanye nilai, regulasi etik publik, dan membangun kembali ekosistem adab. "Moral adalah tiang peradaban, dan Minangkabau pernah menegakkannya dengan kokoh. Kini, kita mesti membangkitkannya kembali dengan bijak, kolektif, dan penuh tanggung jawab."(Duski Samad).16072025.
Dapatkan artikel terbaru langsung ke email Anda