Berita Nasional
JEDDAH – DOHA – SOETTA
JEDDAH – DOHA – SOETTA
Perjalanan Pulang, Membawa Cahaya Haramain
Oleh: Duski Samad
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Ahad, 19 Juli 2026, menjadi hari perpisahan dengan Kota Makkah setelah rangkaian ibadah Umrah Program Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman selesai dilaksanakan. Kepulangan menuju Indonesia ditempuh melalui rute Jeddah – Doha – Soekarno-Hatta (Soetta).
Sejak dini hari, pendamping rombongan Indonesia, Akyar Abu Nawaf, telah mengirimkan pengumuman melalui grup WhatsApp:
03.30 seluruh peserta diharapkan sudah berada di lobi hotel. 03.45 seluruh peserta sudah berada di dalam bus. 04.00 bus diharapkan langsung berangkat menuju Bandara Jeddah.
Pengumuman sederhana itu bukan sekadar informasi teknis, tetapi menjadi penanda bahwa lembaran indah bersama Tanah Suci segera ditutup.
Di lobi Hotel Marriott Jabal Omar, suasana batin para peserta sangat beragam. Ada yang masih larut dalam zikir, ada yang berpelukan dengan sahabat-sahabat baru dari berbagai daerah, ada yang tersenyum sambil menyimpan kerinduan, dan tidak sedikit yang menitikkan air mata. Meninggalkan Masjidil Haram ternyata tidak semudah meninggalkan sebuah kota. Yang ditinggalkan adalah tempat yang selama beberapa hari menjadi pusat doa, taubat, dan penghambaan kepada Allah SWT.
Tim media Kerajaan Arab Saudi turut mengabadikan momen keberangkatan. Kamera foto dan video merekam setiap langkah peserta yang menaiki bus, didampingi dua orang panitia. Dokumentasi itu menjadi bagian dari ikhtiar Kerajaan untuk mengabadikan pelayanan kepada para tamu Allah dari berbagai negara.
Sebelum bus bergerak, terdengar ucapan yang menyejukkan dari panitia:
"Insya Allah, fil hajj... fi amanillah."
Semoga perjalanan selalu berada dalam perlindungan Allah SWT.
Doa safar pun mengalun dari bibir para jamaah:
بِسْمِ اللهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ
"Dengan nama Allah, kami bertawakal kepada-Nya. Mahasuci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami tidak akan mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kepada Tuhan kami, kami akan kembali." (QS. Az-Zukhruf: 13–14).
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap perjalanan sesungguhnya adalah miniatur perjalanan hidup. Kendaraan boleh berganti, bandar udara boleh berbeda, negara boleh berjauhan, tetapi tujuan akhir seluruh manusia tetap satu, yaitu kembali kepada Allah SWT.
Perjalanan Jeddah–Doha–Soekarno-Hatta bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan perpindahan amanah. Jika di Tanah Suci kita belajar memperbanyak ibadah, maka di tanah air saatnya membuktikan bahwa umrah telah mengubah akhlak, memperkuat integritas, memperluas kasih sayang, dan meningkatkan pengabdian kepada umat.
Setiap peserta membawa pulang pengalaman yang berbeda-beda. Ada yang paling terkesan ketika pertama kali memandang Ka'bah, ada yang merasakan kedalaman spiritual saat thawaf di tengah lautan manusia, ada yang tersentuh ketika bermunajat di Multazam, ada yang memperoleh inspirasi dari museum-museum peradaban Islam, ada pula yang menemukan makna persaudaraan dari perjumpaan dengan umat Islam dari berbagai bangsa. Semua pengalaman itu bersifat sangat personal dan akan membekas di hati masing-masing.
Namun, di atas semua pengalaman individual tersebut, ada bekal yang jauh lebih penting untuk dibawa pulang, yaitu tumbuhnya kesadaran kemanusiaan yang universal dan spirit profetik. Di Masjidil Haram, seluruh manusia berdiri sejajar tanpa membedakan bangsa, warna kulit, bahasa, jabatan, kekayaan, maupun fasilitas yang dimiliki. Semua larut dalam satu kiblat, satu pakaian ihram, dan satu tujuan pengabdian kepada Allah. Kemuliaan hanya diukur oleh ketakwaan. Pengalaman ini menegaskan bahwa Islam membangun peradaban yang menghargai persamaan derajat manusia sekaligus menumbuhkan tanggung jawab untuk menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.
Spirit profetik itulah yang semestinya terus hidup setelah kembali ke tanah air. Ibadah tidak berhenti pada ritual, tetapi menjelma menjadi akhlak, kepedulian sosial, kejujuran, keadilan, cinta damai, penguatan persaudaraan, serta pengabdian yang menghadirkan manfaat bagi sesama. Umrah yang mabrur bukan hanya terlihat dari banyaknya ibadah yang dilakukan di Tanah Suci, tetapi dari semakin kuatnya komitmen untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran, membela kemanusiaan, merawat persatuan, dan mengabdi bagi kemajuan bangsa.
Masjidil Haram mungkin telah jauh di belakang, tetapi ruhnya tidak boleh tertinggal di sana. Tawaf memang telah selesai, sa'i telah berakhir, dan tahallul telah dilakukan. Namun, perjalanan menuju ridha Allah baru saja dimulai. Setiap langkah setelah pulang merupakan ujian sesungguhnya: apakah cahaya Haramain mampu tetap menyala dalam pikiran, hati, dan tindakan.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah para jamaah, menjadikan umrah ini umrah maqbulah, menguatkan istiqamah setelah kembali ke tanah air, serta mempertemukan kembali dengan Baitullah pada kesempatan yang akan datang.
اللهم تقبل منا، وأعدنا إلى بيتك الحرام مراتٍ عديدة، واجعل خير أعمالنا خواتيمها، وخير أيامنا يوم نلقاك. آمين يا رب العالمين.
Berita Terkait
Berita Nasional
BREAKING
KERAGAMAN ITU POTENSI
Berita Nasional
BREAKING
WAFATNYA ULAMA LIMA ZAMAN BUYA BAGINDO M.LETTER
Berita Nasional
BREAKING
BASAPA: TRADISI, PROSESI DAN REKOMENDASI
Berita Nasional
BREAKING
SEJARAH "TABUIK PIAMAN" DAN PERAN DAKWAH SYEIKH BURHANUDDIN ULAKAN DI PARIAMAN
Berita Nasional
BREAKING