BANDARA JEDDAH Berita Nasional

BANDARA JEDDAH

Admin 20 Juli 2026, 22:12 WIB 1 dibaca 0 komentar
Bagikan:

BANDARA JEDDAH
Gerbang Peradaban, Gerbang Kepulangan

Oleh: Duski Samad
Peserta Program Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah
Pukul 19.00, Ahad, 19 Juli 2026

Senja mulai turun di Kota Jeddah. Di Gate D1 Bandara Internasional King Abdulaziz, para jamaah bersiap menaiki pesawat Qatar Airways menuju Doha sebelum melanjutkan perjalanan ke Tanah Air. Di ruang tunggu bandara ini, rasa syukur, haru, dan kerinduan kepada Tanah Suci menyatu dalam hati setiap musafir.

Suasana ruang tunggu Gate D1 juga mengajarkan pelajaran tentang pentingnya kebersamaan dan disiplin dalam perjalanan. Salah seorang anggota rombongan sempat keluar dari area berkumpul tanpa memberi tahu teman-temannya. Ketika proses persiapan keberangkatan dimulai, petugas pendamping bersama beberapa peserta memanggil-manggil namanya karena dikhawatirkan tertinggal. Alhamdulillah, tidak lama kemudian yang bersangkutan kembali sehingga seluruh rombongan dapat melanjutkan proses keberangkatan dengan tenang. Peristiwa sederhana ini mengingatkan bahwa dalam safar, kebersamaan bukan hanya berjalan bersama, tetapi juga saling menjaga, saling memberi kabar, dan saling bertanggung jawab agar tidak menyulitkan orang lain.

Tahap check-in dan pemeriksaan sebelum naik pesawat juga memperlihatkan ketelitian sistem pelayanan penerbangan internasional. Walaupun paspor telah diperiksa beberapa kali, setiap calon penumpang tetap harus memperlihatkan wajahnya secara langsung agar sesuai dengan foto dan identitas yang tercantum di dalam paspor. Teknologi dan dokumen sangat membantu, tetapi verifikasi langsung tetap menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan perjalanan.

Ketika panggilan naik pesawat menuju Doha diumumkan, langkah kaki kembali diiringi doa yang diajarkan Rasulullah SAW ketika keluar untuk melakukan perjalanan:

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

"Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah."

Doa itu menjadi penutup perjalanan di Tanah Suci sekaligus pembuka perjalanan menuju tanah air. Setelah segala ikhtiar dilakukan, hanya kepada Allah SWT seluruh urusan diserahkan.

Sambil menunggu waktu keberangkatan, pikiran melayang pada sejarah panjang kota yang kami tinggalkan. Jeddah bukan sekadar kota transit. Kota ini memiliki posisi yang sangat penting dalam sejarah Islam dan peradaban dunia. Dari sebuah perkampungan nelayan di pesisir Laut Merah, Jeddah berkembang menjadi pelabuhan internasional sejak 647 M, ketika Khalifah Utsman bin Affan RA menetapkannya sebagai pelabuhan resmi bagi jamaah haji menuju Makkah. Sejak saat itu, Jeddah menjadi tempat bertemunya manusia dari berbagai bangsa, bahasa, budaya, dan peradaban.

Keistimewaan Jeddah tampak dalam beberapa hal.

Pertama, Jeddah adalah pintu gerbang menuju Dua Tanah Suci. Selama lebih dari empat belas abad, jutaan jamaah haji dan umrah dari seluruh dunia memasuki Hijaz melalui kota ini. Bersama para pedagang, ulama, ilmuwan, dan musafir, Jeddah menjadi simpul pertukaran ilmu pengetahuan, ekonomi, dan kebudayaan Islam.

Kedua, kawasan bersejarah Al-Balad menjadi saksi perjalanan panjang tersebut. Kawasan yang berdiri sejak abad ke-7 ini memperlihatkan arsitektur khas Hijaz dengan bangunan bertingkat yang dibangun dari batu karang Laut Merah dan dilengkapi rawashin (jendela kayu) sebagai adaptasi terhadap iklim pesisir. Hingga kini Al-Balad tetap menjadi simbol kejayaan kota tua Jeddah.

Ketiga, masyarakat mengenal Jeddah sebagai kota "Jaddah" (nenek). Tradisi lokal mengaitkan nama itu dengan keberadaan makam Siti Hawa, ibu seluruh umat manusia. Walaupun keberadaan makam tersebut lebih merupakan tradisi sejarah daripada sesuatu yang dapat dipastikan secara ilmiah, kisah itu telah menjadi bagian dari identitas budaya Jeddah selama berabad-abad.

Keempat, Jeddah merupakan titik temu berbagai peradaban. Kota pelabuhan ini menerima pengaruh budaya dari Afrika, Asia, Timur Tengah, hingga Nusantara melalui jalur perdagangan Laut Merah. Karena itu, wajah Jeddah hari ini mencerminkan karakter kosmopolitan yang tetap berpijak pada identitas Islam.

Bagi jamaah Indonesia, Jeddah juga memiliki makna fikih yang penting. Dalam praktik penerbangan modern, banyak jamaah haji dan umrah yang berihram ketika pesawat melintasi miqat Yalamlam, yaitu miqat yang telah ditetapkan Rasulullah SAW bagi penduduk Yaman dan mereka yang datang melalui jalur tersebut. Karena pesawat mendarat di Jeddah setelah melewati garis miqat itu, jamaah dari Indonesia umumnya telah mengenakan ihram dan berniat sebelum atau ketika melintasi kawasan Yalamlam. Dengan demikian, Jeddah bukanlah miqat yang ditetapkan dalam hadis, melainkan kota tujuan setelah melintasi miqat Yalamlam.

Kini, dari Gate D1 Bandara Jeddah, perjalanan ibadah memasuki babak akhir. Langkah akan meninggalkan Tanah Haram, tetapi nilai-nilai yang dipetik selama berada di Haramain tidak boleh ditinggalkan. Tawaf telah selesai, sa'i telah usai, dan tahallul telah dilakukan, tetapi perjalanan menuju ridha Allah sesungguhnya baru dimulai.

Semoga kepulangan ini bukan sekadar membawa oleh-oleh dari Tanah Suci, melainkan membawa hati yang lebih bersih, ilmu yang lebih luas, akhlak yang lebih mulia, serta tekad yang lebih kuat untuk mengabdi kepada agama, bangsa, dan kemanusiaan.

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ هَذَا آخِرَ الْعَهْدِ مِنْ بَيْتِكَ الْحَرَامِ، وَارْزُقْنَا الْعَوْدَ إِلَيْهِ مَرَّاتٍ عَدِيدَةً

"Ya Allah, janganlah Engkau jadikan ini sebagai pertemuan terakhir kami dengan Baitullah. Karuniakanlah kepada kami kesempatan untuk kembali mengunjunginya berkali-kali dengan kesehatan, keimanan, dan keberkahan."

Alhamdulillāhi Rabbil 'Ālamīn.

Komentar

Silakan masuk untuk memberikan komentar.

Masuk

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berlangganan Newsletter

Dapatkan berita terpilih langsung di kotak masuk Anda setiap hari.