KOMITMEN 66 Berita Nasional

KOMITMEN 66

Admin 20 Juli 2026, 22:13 WIB 2 dibaca 0 komentar
Bagikan:

KOMITMEN 66:
Syukur, Ilmu, dan Pengabdian Tanpa Akhir

Oleh: Duski Samad



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Bulan Juli selalu menghadirkan ruang perenungan yang sangat pribadi. Tepat pada 18 Juli 1960, Allah SWT mengawali perjalanan hidup saya di dunia. Maka setiap tanggal 18 Juli bukan sekadar penanda bertambahnya usia, melainkan momentum untuk mengevaluasi sejauh mana amanah kehidupan telah dijalankan dan sejauh mana bekal telah dipersiapkan menuju kehidupan yang kekal.

Milad ke-66 tahun ini memiliki makna yang sangat istimewa. Allah menakdirkan saya mensyukurinya di Tanah Suci, di sekitar Masjidil Haram, sehari sebelum kepulangan ke tanah air pada 19 Juli 2026. Tidak semua orang memperoleh karunia seperti ini. Karena itu, milad kali ini bukan untuk dirayakan, melainkan untuk disyukuri dengan sujud yang lebih panjang, doa yang lebih dalam, dan komitmen hidup yang lebih kuat.

Di antara nikmat terbesar yang saya rasakan adalah memperoleh kehormatan menjadi Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman dalam Program Umrah Tahun 1448 H/2026 M. Menjadi salah seorang dari sekitar seribu muslim yang diundang dari berbagai penjuru dunia merupakan anugerah yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Nikmat sebesar ini tidak boleh berhenti pada rasa bangga, tetapi harus melahirkan tanggung jawab moral yang lebih besar dalam dakwah, pendidikan, dan pengabdian kepada umat.

Momentum ini membawa saya menoleh ke belakang. Semakin jauh perjalanan hidup ditempuh, semakin terasa bahwa seluruh kehidupan ini adalah rangkaian pertolongan Allah SWT yang dihadirkan melalui orang-orang pilihan-Nya.

Saya hanyalah seorang anak kampung yang lahir di Sikabu. Pada usia sebelas tahun, saya kehilangan ayah tercinta. Kepergian beliau menjadi ujian pertama yang membentuk keteguhan, kesabaran, dan semangat untuk terus bangkit. Dalam keterbatasan itu, Allah menghadirkan seorang ibu yang luar biasa tangguh. Beliaulah yang membesarkan, mendidik, mendoakan, dan menguatkan kami hingga mencapai usia 104 tahun. Air mata, pengorbanan, dan doa beliau menjadi fondasi utama seluruh perjalanan hidup saya. Tidak ada keberhasilan yang dapat saya pisahkan dari jasa seorang ibu.

Allah kemudian mempertemukan saya dengan para guru, ulama, dan orang-orang saleh yang menjadi jalan terbukanya masa depan. Menimba ilmu di MTI Batang Kabung Padang membentuk fondasi keislaman, keilmuan, dan akhlak. Perjalanan dilanjutkan sebagai mahasiswa IAIN Imam Bonjol Padang, kemudian menyelesaikan pendidikan Pascasarjana hingga meraih gelar Doktor di Jakarta. Semua itu merupakan anugerah Ilahi yang terus saya syukuri. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang ditempuh, semakin saya menyadari bahwa ilmu adalah karunia Allah yang diberikan melalui doa orang tua, bimbingan guru, dan pertolongan-Nya.

Perjalanan akademik kemudian menghadirkan berbagai amanah. Saya memulai pengabdian sebagai dosen, dipercaya menjadi Ketua Program Studi, Asisten Direktur Pascasarjana, Dekan Pengganti Antar Waktu (PAW), Dekan definitif Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, hingga memperoleh amanah sebagai Ketua Senat Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang. Semua jabatan tersebut saya pahami bukan sebagai kehormatan pribadi, melainkan sebagai amanah untuk membangun lembaga, melayani sivitas akademika, dan melahirkan generasi yang berilmu serta berakhlak.

Karunia Allah berikutnya adalah ketika saya dikukuhkan sebagai Guru Besar pada Oktober 2008, dalam usia 48 tahun. Amanah akademik ini bukanlah puncak perjalanan, tetapi awal tanggung jawab yang lebih besar untuk mengembangkan ilmu, membimbing generasi muda, melahirkan karya ilmiah, serta menghadirkan pemikiran Islam yang relevan dengan tantangan zaman.

Selepas meraih gelar Doktor pada 11 Juli 2003, ruang pengabdian kepada masyarakat semakin luas. Allah mempercayakan berbagai amanah, di antaranya sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia Kota Padang selama dua periode, Ketua MUI Kota Padang selama dua periode, Ketua PW Dewan Masjid Indonesia Sumatera Barat, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sumatera Barat, Ketua Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin, Ketua Pembina Yayasan Profetik Transendental Indonesia, Ketua Pembina Yayasan Qur'an Scientia, Ketua Yayasan Yakin, serta berbagai amanah sosial, pendidikan, dan keagamaan lainnya.

Di samping itu, aktivitas menulis buku dan artikel, menyampaikan khutbah, ceramah, mengajar, berdialog dengan umat, membangun lembaga pendidikan, serta mengembangkan gerakan dakwah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan saya. Saya meyakini bahwa ilmu memperoleh kemuliaannya apabila diajarkan, dituliskan, diamalkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Seluruh perjalanan hidup tersebut melahirkan beberapa komitmen batin yang ingin terus saya pegang.

Pertama, syukur tiada henti. Semakin bertambah usia, semakin terasa bahwa kehidupan adalah kumpulan nikmat Allah yang tidak mungkin dihitung. Kesehatan, keluarga, guru, murid, sahabat, amanah organisasi, kesempatan menulis, serta perjalanan ilmu merupakan karunia yang harus dijaga dengan rasa syukur. Allah SWT berfirman:

«"Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu." (QS. Ibrahim: 7).»

Syukur bukan hanya ucapan alhamdulillah, tetapi diwujudkan dalam amal yang semakin berkualitas.

Kedua, ilmu Allah sangat luas. Semakin lama belajar, semakin terasa bahwa pengetahuan manusia hanyalah setetes air di tengah samudera yang tidak bertepi. Pengalaman mengikuti halaqah ulama di Haramain, mengunjungi museum peradaban Islam, berdialog dengan peserta dari berbagai negara, dan menyaksikan sejarah Islam secara langsung semakin menguatkan keyakinan bahwa proses belajar tidak pernah berakhir. Guru sejati adalah orang yang tetap menjadi murid sepanjang hayat.

Ketiga, dunia semakin kecil. Pertemuan umat Islam dari berbagai bangsa memperlihatkan bahwa batas-batas geografis semakin memudar. Dakwah masa depan membutuhkan wawasan global yang tetap berakar pada Al-Qur'an, Sunnah, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Keempat, memuliakan hidup. Usia bukan sekadar dipanjangkan, tetapi harus dimuliakan dengan karya yang memberi manfaat. Rasulullah SAW bersabda:

«"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."»

Karena itu, setiap hari yang tersisa harus diisi dengan ilmu yang diajarkan, gagasan yang ditulis, lembaga yang dibangun, generasi yang dibimbing, dan masyarakat yang dilayani. Kehidupan memperoleh kemuliaannya ketika menghadirkan manfaat bagi sesama.

Kelima, tugas dakwah tidak pernah berakhir. Pensiun mungkin berlaku dalam administrasi, tetapi tidak dalam dakwah. Selama nafas masih berhembus, kewajiban menyampaikan kebenaran, menguatkan persatuan, membangun pendidikan, membela nilai-nilai keadilan, dan menebarkan kasih sayang tetap menjadi panggilan hidup. Dakwah bukan sekadar ceramah, tetapi juga keteladanan, karya ilmiah, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat.

Kini, pada usia 66 tahun, seluruh perjalanan hidup itu semakin memperkuat keyakinan bahwa tidak ada satu pun keberhasilan yang berdiri sendiri. Semuanya adalah rangkaian nikmat Allah yang disalurkan melalui orang tua, guru, keluarga, sahabat, murid, kolega, dan masyarakat yang selama ini membersamai perjalanan hidup saya.

Milad ke-66 ini saya maknai sebagai awal babak baru kehidupan. Bukan lagi mengejar banyaknya jabatan atau penghargaan, melainkan memperbanyak kebermanfaatan, memperluas jejak amal saleh, menyiapkan kader penerus, serta meninggalkan karya yang terus hidup setelah usia berakhir. Sebab, sebaik-baik kehidupan bukanlah yang paling panjang, melainkan yang paling banyak memberikan manfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.

اللَّهُمَّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ

"Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, serta agar aku dapat mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai." (QS. An-Naml: 19). Makkah, 707mariothotel 19 Juli 2026

Komentar

Silakan masuk untuk memberikan komentar.

Masuk

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berlangganan Newsletter

Dapatkan berita terpilih langsung di kotak masuk Anda setiap hari.