Berita Nasional
AKTSARUL DZIKIR: JALAN MENGHIDUPKAN HATI DAN MENGUATKAN MURAQABAH
AKTSARUL DZIKIR: JALAN MENGHIDUPKAN HATI DAN MENGUATKAN MURAQABAH
Oleh: Duski Samad
Kajian Subuh Masjid Darul Muttaqin, Selasa, 18 Agustus 2026
Pasal kedua kitab Tadzkirat al-Qulūb fī Murāqabati ‘Allām al-Ghuyūb karya Syekh Muhammad Jamil Jaho membicarakan إكثار الذكر (iktsār al-dzikr), memperbanyak zikir. Pembahasan ini ditempatkan sebagai bagian dari jalan membangun murāqabah, yakni kesadaran batin bahwa manusia senantiasa berada dalam pengetahuan dan pengawasan Allah.
Syekh Muhammad Jamil Jaho membuka pembahasan ini dengan seruan yang langsung menyentuh tujuan perjalanan seorang salik:
أيها الإنسان إذا أردت التقرب إلى مولاك فأكثر ذكرا كثيرا لأن الذكر باب الله الأعظم
“Wahai manusia, apabila engkau ingin mendekatkan diri kepada Tuhanmu, maka perbanyaklah zikir, karena sesungguhnya zikir adalah pintu Allah yang paling agung.”
Ungkapan “zikir adalah pintu Allah yang paling agung” memberikan dasar penting bagi pendidikan ruhani. Kedekatan kepada Allah tidak cukup dibangun melalui pengetahuan tentang Allah. Ilmu harus bergerak menjadi kesadaran, kesadaran harus tumbuh menjadi ingatan, dan ingatan kepada Allah harus menetap menjadi keadaan batin. Di sinilah zikir bekerja. Ia menghubungkan pengetahuan dengan rasa bertuhan.
Manusia pada dasarnya tidak pernah kosong dari ingatan. Hatinya selalu dipenuhi sesuatu: pekerjaan, harta, kedudukan, keluarga, persoalan hidup, harapan, kekhawatiran, bahkan berbagai keinginan yang tidak pernah selesai. Persoalannya bukan apakah manusia mengingat atau tidak, tetapi apa yang paling banyak diingatnya. Apa yang terus-menerus memenuhi hati, pada akhirnya akan menentukan arah kehidupan.
Karena itulah Syekh Jamil Jaho mengingatkan agar waktu manusia dimakmurkan dengan tahlil, tasbih, tahmid, dan istighfar, bukan justru dihabiskan dalam kelalaian dan perkara yang menjauhkan hati dari Allah. Zikir harus melampaui batas ritual sesaat dan bergerak menjadi kebiasaan ruhani.
Al-Qur'an memberikan landasan bagi keadaan seperti itu:
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ
“Apabila kamu telah menyelesaikan salat, maka ingatlah Allah ketika berdiri, duduk, dan berbaring.”
Pesannya jelas. Zikir tidak berhenti ketika ibadah formal selesai. Seusai salat manusia kembali bekerja, berdagang, belajar, mengajar, memimpin, bermasyarakat, dan mengurus keluarganya, tetapi hubungan batinnya dengan Allah tidak boleh terputus. Tubuh boleh sibuk dengan dunia, sedangkan hati tetap memiliki orientasi kepada Allah.
Di sinilah dapat dipahami perbedaan antara orang yang berzikir dan manusia yang hidup dalam zikir. Yang pertama mungkin mengucapkan kalimat zikir pada waktu tertentu. Yang kedua menjadikan ingatan kepada Allah sebagai suasana batinnya. Lisannya berzikir, hatinya sadar, pikirannya terarah, dan tindakannya dikendalikan oleh kesadaran ilahiah.
Syekh Jamil Jaho selanjutnya mengemukakan keutamaan majelis zikir. Para malaikat mencari orang-orang yang mengingat Allah. Ketika menemukan mereka, para malaikat menaungi majelis itu. Allah membanggakan hamba-hamba yang bertasbih, bertahmid, bertakbir, memohon surga, dan berlindung dari neraka. Bahkan orang yang berada bersama mereka karena suatu keperluan turut memperoleh keberkahan pergaulan dengan ahli zikir.
Pesan sosialnya penting. Kesalehan ruhani membutuhkan lingkungan ruhani. Hati manusia dipengaruhi oleh apa yang didengar, dilihat, dibaca, dibicarakan, dan oleh siapa ia bergaul. Majelis zikir karena itu bukan sekadar tempat mengulang lafaz, tetapi ruang pembentukan suasana batin bersama.
Syekh Jamil Jaho juga mengutip sabda Nabi SAW:
سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ
“Telah mendahului orang-orang al-mufarridūn.”
Ketika para sahabat bertanya siapa mereka, dijelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat tekun dan tenggelam dalam zikir kepada Allah. Mereka bukan sekadar banyak berbicara tentang Tuhan, tetapi hatinya telah dikuasai oleh kesadaran kepada-Nya.
Pada titik inilah aktsarul dzikir bertemu dengan muraqabah.
Zikir yang terus diulang pada awalnya mungkin masih berada pada lidah. Ketika dilakukan dengan kesadaran, ia turun ke dalam hati. Ketika hati terus dibiasakan mengingat Allah, lahirlah rasa kehadiran-Nya. Dari rasa kehadiran itulah tumbuh muraqabah: seseorang menjaga perkataan karena sadar Allah mendengar, menjaga pandangan karena sadar Allah melihat, menjaga pikiran dan niat karena yakin Allah mengetahui apa yang tersembunyi dalam dada.
Dengan demikian, zikir dalam pendidikan sufistik bukan pelarian dari kehidupan. Justru zikir menghadirkan kontrol batin ketika manusia berada di tengah kehidupan. Orang yang benar zikirnya seharusnya semakin jujur ketika memegang amanah, semakin hati-hati menggunakan kekuasaan, semakin bersih dalam mencari rezeki, semakin santun dalam berbicara, dan semakin takut melakukan kezaliman.
Inilah transformasi yang hendak dicapai:
dzikr al-lisān—zikir lisan—bergerak menjadi dzikr al-qalb, zikir hati; zikir hati melahirkan hudhur, kehadiran kesadaran kepada Allah; dan hudhur yang terus dipelihara menguat menjadi murāqabah.
Maka pesan iktsār al-dzikr Syekh Muhammad Jamil Jaho sangat relevan untuk manusia modern yang hidup di tengah banjir informasi dan distraksi. Manusia hari ini mungkin tidak kekurangan informasi, tetapi mudah kehilangan keheningan hati. Pikiran terus bergerak, layar terus menyala, pesan terus masuk, dan perhatian terus diperebutkan. Dalam keadaan demikian, zikir menjadi jalan untuk mengembalikan pusat kesadaran manusia kepada Allah.
Aktsarul dzikir pada akhirnya bukan sekadar memperbanyak hitungan, tetapi memperbanyak kehadiran Allah dalam kesadaran. Lidah menyebut-Nya, hati mengingat-Nya, akal mempertimbangkan kehendak-Nya, dan perilaku dijaga karena merasa berada dalam pengawasan-Nya.
Di situlah zikir mencapai tujuan terdalamnya. Zikir menghidupkan hati, hati yang hidup melahirkan muraqabah, dan muraqabah melahirkan akhlak. Manusia tidak hanya menjadi orang yang banyak menyebut nama Allah, tetapi menjadi pribadi yang kehidupannya menunjukkan bahwa ia benar-benar ingat kepada Allah.
Berita Terkait
Berita Nasional
BREAKING
KERAGAMAN ITU POTENSI
Berita Nasional
BREAKING
WAFATNYA ULAMA LIMA ZAMAN BUYA BAGINDO M.LETTER
Berita Nasional
BREAKING
BASAPA: TRADISI, PROSESI DAN REKOMENDASI
Berita Nasional
BREAKING
SEJARAH "TABUIK PIAMAN" DAN PERAN DAKWAH SYEIKH BURHANUDDIN ULAKAN DI PARIAMAN
Berita Nasional
BREAKING