KEMERDEKAAN DENGAN BASHIRAH Berita Nasional

KEMERDEKAAN DENGAN BASHIRAH

Admin 16 Agustus 2026, 12:44 WIB 5 dibaca 0 komentar
Bagikan:

KEMERDEKAAN DENGAN BASHIRAH
Refleksi QS. Yusuf Ayat 108 untuk Kampus Islam dan Kemerdekaan RI

Oleh: Duski Samad
Khutbah Jum'at 14 Agustus 2026 Masjid Baitul Hikmah UIN Imam Bonjol

 

Setiap tanggal 17 Agustus bangsa Indonesia kembali mengenang satu peristiwa besar dalam perjalanan sejarahnya. Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 bukan sekadar pembacaan beberapa kalimat oleh Soekarno-Hatta. Ia adalah pernyataan bahwa bangsa Indonesia telah memilih jalannya sendiri. Setelah berabad-abad berada dalam kekuasaan bangsa lain, Indonesia menyatakan kepada dunia: kami adalah bangsa merdeka, mempunyai tanah air, kedaulatan, cita-cita, dan jalan masa depan sendiri.

Dalam suasana memperingati kemerdekaan itu, sangat relevan merenungkan firman Allah SWT dalam QS. Yusuf ayat 108:

قُلْ هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ
"Katakanlah, inilah jalanku. Aku mengajak kepada Allah dengan bashirah, aku dan orang-orang yang mengikutiku. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik."

Ayat ini berbicara tentang jalan dakwah Rasulullah SAW, tetapi kandungan nilainya sangat luas. Ia memberikan paradigma tentang jalan, orientasi, bashirah, kebersamaan, dan tauhid. Lima hal tersebut bukan hanya penting bagi dakwah, tetapi juga relevan bagi bangsa yang sedang mengisi kemerdekaan dan bagi kampus Islam yang memikul amanah mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kata pertama yang penting adalah هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ — hadzihi sabili, “inilah jalanku.” Kemerdekaan pada hakikatnya adalah kemampuan menentukan jalan sendiri. Bangsa yang dijajah tidak sepenuhnya memiliki jalannya. Politik, ekonomi, pendidikan, bahkan kebudayaannya ditentukan oleh kepentingan penjajah.

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, bangsa ini sesungguhnya sedang menyatakan dalam bahasa kebangsaan: hadzihi sabili—inilah jalan kami.

Namun memiliki jalan tidaklah cukup. Jalan harus mempunyai tujuan dan orientasi. Karena itu ayat tersebut segera dilanjutkan dengan أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ — ad'u ilallah, “aku mengajak kepada Allah.”

Artinya, jalan tidak boleh kehilangan orientasi ilahiah.

Kesadaran ini sangat dekat dengan dasar kemerdekaan Indonesia. Pembukaan UUD 1945 secara eksplisit menyatakan bahwa kemerdekaan Indonesia terjadi “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.” Kemerdekaan sejak awal tidak dipisahkan dari kesadaran ketuhanan.

Karena itu, kemerdekaan tidak boleh membawa manusia semakin jauh dari Tuhan. Kemerdekaan harus melahirkan tanggung jawab moral. Kekuasaan adalah amanah. Ilmu adalah amanah. Kebebasan adalah amanah. Kekayaan adalah amanah. Jabatan adalah amanah. Semua harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada Allah SWT.

Jalan Dakwah Kampus Islam

Pesan hadzihi sabili, ad'u ilallah menjadi semakin penting ketika dibawa ke dunia perguruan tinggi Islam. Jalan dakwah kampus Islam adalah memastikan pondasi ilmu tetap sesuai dengan spirit ilahiyat dan syariat.

Kampus Islam tidak cukup hanya berbeda dari kampus lain karena namanya memakai kata Islam, memiliki fakultas agama, masjid yang megah, atau kegiatan keagamaan yang banyak. Identitas Islam harus hadir pada epistemologi, etika akademik, budaya ilmu, tata kelola, dan orientasi pengabdiannya.

Ilmu pada asalnya tidak terbelah antara ilmu Tuhan dan ilmu manusia. Semua kebenaran berasal dari Allah dan seluruh realitas adalah ayat-ayat-Nya. Karena itu, dikotomi ilmu harus dihentikan. Pertentangan artifisial antara ilmu agama dan ilmu umum harus digantikan dengan integrasi ilmu yang berorientasi kepada kemaslahatan manusia dan pengabdian kepada Allah.

Demikian pula sekularisasi ilmu yang memisahkan kecerdasan dari tanggung jawab moral harus dikritisi. Kampus Islam tidak boleh menghasilkan orang pintar yang kehilangan kompas etik.

Lebih-lebih lagi, kebohongan akademik harus dilawan. Plagiarisme, manipulasi data, karya ilmiah pesanan, transaksi nilai, jual beli pengaruh, dan berbagai bentuk ketidakjujuran akademik bertentangan langsung dengan spirit ad'u ilallah dan 'ala bashirah.

Bagaimana mungkin sebuah kampus mengajak kepada Allah jika proses keilmuannya justru dibangun di atas ketidakjujuran?

Kampus Islam harus menjadi rumah kebenaran. Ilmu dicari karena kebenaran, dikembangkan untuk kemaslahatan, dan diabdikan sebagai bagian dari ibadah.

Bashirah Akademik

Kata kunci berikutnya adalah عَلَىٰ بَصِيرَةٍ — 'ala bashirah.

Bashirah lebih dalam daripada kemampuan melihat. Mata melihat yang tampak, sedangkan bashirah melihat makna di balik yang tampak. Bashirah mempertemukan ilmu yang benar, akal yang sehat, hati yang jernih, dan orientasi yang lurus.

Dalam kehidupan kampus, kita membutuhkan apa yang dapat disebut sebagai bashirah akademik.

Bashirah akademik berarti jernih dalam berpikir, dalam dalam memahami, lurus dalam bersikap, dan benar dalam bertindak. Ia tidak pragmatis, tidak transaksional, tidak menjadikan ilmu sebagai alat kepentingan sesaat.

Dosen dengan bashirah tidak hanya bertanya berapa SKS yang harus diselesaikan, tetapi berapa banyak mahasiswa yang berhasil dicerdaskan dan didewasakan.

Pemimpin dengan bashirah tidak hanya menghitung masa jabatan, tetapi meninggalkan sistem dan budaya akademik yang semakin sehat.

Mahasiswa dengan bashirah tidak sekadar mengejar IPK dan ijazah, tetapi membangun kapasitas ilmu, karakter, dan kompetensi.

Tenaga kependidikan dengan bashirah memahami bahwa administrasi bukan sekadar urusan berkas, tetapi bagian dari pelayanan terhadap ilmu.

Maka bashirah akademik melahirkan budaya melayani, tulus, saling menghargai, dan saling menguatkan.

Kampus tidak boleh menjadi arena transaksi kepentingan. Kampus harus menjadi ruang tumbuhnya keikhlasan intelektual, keberanian akademik, kejujuran ilmiah, dan pengabdian.

Inilah makna kemerdekaan dalam dunia akademik: merdeka dari kebohongan, merdeka dari plagiarisme, merdeka dari pragmatisme, merdeka dari transaksi kepentingan, dan merdeka dari ketakutan menyatakan kebenaran ilmiah.

Dari “Aku” Menuju “Kita”

QS. Yusuf ayat 108 tidak berhenti pada Nabi secara individual. Allah menyatakan:

أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى — ana wa manittaba'ani, “aku dan orang-orang yang mengikutiku.”

Ada pesan kolektivitas di sini.

Perjuangan besar tidak dapat diselesaikan oleh seorang diri. Kemerdekaan Indonesia tidak lahir dari satu orang, satu organisasi, satu suku, ataupun satu daerah. Ia lahir dari kesediaan mengubah “aku” menjadi “kita.”

Begitu pula membangun kampus dan bangsa.

Kita membutuhkan kolaborasi, bukan kompetisi yang saling melemahkan. Kita membutuhkan kesatuan ideologi, aksi, orientasi, narasi, dan realisasi. Apa yang diyakini harus bertemu dengan apa yang dikerjakan. Apa yang dinarasikan harus tampak dalam realisasi.

Narasi tanpa aksi melahirkan slogan. Aksi tanpa orientasi melahirkan kesibukan tanpa arah. Orientasi tanpa ideologi mudah berubah karena kepentingan. Ideologi tanpa kolaborasi sulit menjadi kekuatan perubahan.

Karena itu diperlukan kepemimpinan dan jamaah yang sehat. Ada visi bersama, pembagian tugas, disiplin organisasi, serta kepatuhan kepada pimpinan selama kepemimpinan berjalan dalam kebenaran dan kemaslahatan.

Dalam kehidupan berjamaah terdapat pelajaran sederhana tetapi kuat: domba yang terpisah dari kelompoknya akan lebih mudah diterkam singa.

Begitu pula sebuah institusi. Ketika energi habis untuk pertentangan internal, ego pribadi, kelompok kecil, dan transaksi kepentingan, kekuatan besar yang sebenarnya dimiliki menjadi lemah.

Kebersamaan bukan berarti mematikan kritik. Justru bashirah mengajarkan bahwa kritik harus disampaikan dengan ilmu, adab, ketulusan, dan tujuan memperbaiki. Setelah keputusan diambil secara benar, energi bersama diarahkan kepada realisasi.

Kita satu dalam ideologi, jelas dalam orientasi, kuat dalam narasi, kompak dalam aksi, dan nyata dalam realisasi.

Tauhid adalah Jiwa yang Mempersatukan

Ayat tersebut ditutup dengan:
وَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ
"Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik."

Penutup ini sangat penting. Setelah berbicara tentang jalan, dakwah, bashirah, dan kebersamaan, Al-Qur'an mengembalikannya kepada tauhid.

Tauhid bukan hanya doktrin yang dihafal. Tauhid adalah jiwa yang mempersatukan.

Tauhid menyatukan ilmu dengan iman, ucapan dengan tindakan, dunia dengan akhirat, kecerdasan dengan akhlak, kebebasan dengan tanggung jawab, dan kepentingan individu dengan kemaslahatan bersama.

Sebaliknya, syirik pada hakikatnya adalah keterpecahan orientasi pengabdian. Ketika Allah tidak lagi menjadi orientasi tertinggi, manusia mudah menjadikan harta, kekuasaan, popularitas, jabatan, dan kenikmatan sebagai “tuhan-tuhan” baru dalam kehidupannya.

Dari sinilah hedonisme menemukan pintunya. Hidup hanya diukur dengan kenikmatan, materi, status, dan kesenangan. Ketika hedonisme menjadi budaya, pengabdian melemah, kesederhanaan hilang, kejujuran dapat diperjualbelikan, dan akhirnya institusi maupun masyarakat dapat menuju kehancuran moral.

Maka kemerdekaan harus dijaga dengan tauhid. Tauhid memerdekakan manusia dari penghambaan kepada selain Allah.

Orang bertauhid dapat mempunyai harta tanpa menjadi budak harta. Memiliki jabatan tanpa diperbudak jabatan. Memiliki ilmu tanpa diperbudak kesombongan. Memegang kekuasaan tanpa menjadikan kekuasaan sebagai tujuan hidup.

Kemerdekaan Kampus, Kemerdekaan Bangsa

Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, perjuangan kita telah berubah bentuk. Para pendahulu berjuang membebaskan tanah air dari kolonialisme. Generasi hari ini harus membebaskan bangsa dari penjajahan dalam bentuk baru.

Kebodohan menjajah akal. Kemiskinan membatasi pilihan hidup. Korupsi merampas hak rakyat. Hoaks menjajah kesadaran. Plagiarisme merusak kehormatan ilmu. Pragmatisme menjajah idealisme. Hedonisme melemahkan jiwa pengabdian. Hawa nafsu menjajah hati manusia.

Kampus Islam harus berada di garis depan perjuangan menghadapi semua itu.

Di sinilah QS. Yusuf ayat 108 menemukan relevansinya dengan kemerdekaan Indonesia dan dunia akademik.

Hadzihi sabili mengingatkan kita agar memiliki jalan dan jati diri.

Ad'u ilallah memastikan bahwa jalan ilmu dan pembangunan mempunyai orientasi ilahiah.

'Ala bashirah menuntut kejernihan, kedalaman ilmu, kelurusan, ketulusan, pelayanan, dan keberanian menolak pragmatisme serta transaksi kepentingan.

Ana wa manittaba'ani mengajarkan kolaborasi, jamaah, kepemimpinan, dan kekuatan “kita”.

Wa ma ana minal musyrikin meneguhkan tauhid sebagai jiwa yang menyatukan seluruh perjalanan.

Karena itu, kemerdekaan tidak cukup diperingati dengan upacara, bendera, perlombaan, dan slogan. Kemerdekaan harus hadir dalam budaya ilmu, integritas akademik, kualitas pelayanan, kekuatan kolaborasi, ketulusan pengabdian, dan keberanian menjaga kebenaran.

Merdeka dengan tauhid.
Berilmu dengan bashirah.
Bekerja dengan ketulusan.
Bergerak dalam kolaborasi.
Taat dalam kebaikan.
Kuat dalam narasi dan aksi.
Nyata dalam pengabdian dan realisasi.

Itulah kemerdekaan yang bukan hanya membebaskan tanah air, tetapi juga memerdekakan ilmu dari sekularisasi, akademik dari kebohongan, organisasi dari egoisme, kehidupan dari hedonisme, dan jiwa dari penghambaan kepada selain Allah.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Semoga kampus Islam terus menjadi benteng ilmu, iman, integritas, dan pengabdian; melahirkan manusia merdeka yang memiliki bashirah, kokoh dalam tauhid, kuat dalam kebersamaan, dan menghadirkan ilmu sebagai rahmat bagi bangsa dan kemanusiaan.ds.14082026

Komentar

Silakan masuk untuk memberikan komentar.

Masuk

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berlangganan Newsletter

Dapatkan berita terpilih langsung di kotak masuk Anda setiap hari.