Berita Nasional
TAHUN BARU 1448 HIJRAH UNTUK TAUHID BERDAMPAK
TAHUN BARU 1448 HIJRAH UNTUK TAUHID BERDAMPAK
Oleh: Duski Samad
Setiap kali Tahun Baru Hijriah tiba, umat Islam menyambutnya dengan berbagai kegiatan keagamaan. Ada yang mengadakan tabligh akbar, zikir bersama, pawai Muharram, doa awal dan akhir tahun, serta berbagai bentuk syiar lainnya. Semua itu tentu baik dan patut diapresiasi. Namun pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah pergantian tahun ini telah menghadirkan perubahan dalam diri kita? Apakah hijrah yang kita peringati setiap tahun telah melahirkan dampak nyata bagi kehidupan umat?
Hijrah yang menjadi dasar penanggalan Islam bukanlah sekadar perpindahan geografis Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah perubahan orientasi hidup. Hijrah adalah transformasi akidah menjadi peradaban. Hijrah adalah perjalanan dari kelemahan menuju kekuatan, dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari komunitas yang tercerai-berai menuju masyarakat yang terorganisir dalam bingkai nilai-nilai tauhid.
Karena itu, Tahun Baru 1448 Hijriah semestinya menjadi momentum untuk bertanya secara jujur kepada diri sendiri: sejauh mana tauhid yang kita yakini telah berdampak pada kehidupan kita?
Allah SWT menegaskan dalam Surat Al-An'am ayat 162:
«"Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam."»
Ayat ini sesungguhnya merupakan manifesto tauhid yang sangat revolusioner. Tauhid bukan hanya keyakinan bahwa Allah itu Esa. Tauhid adalah pusat orientasi seluruh kehidupan. Shalat untuk Allah, ibadah untuk Allah, hidup untuk Allah, bahkan mati pun untuk Allah. Tidak ada satu ruang kehidupan yang berada di luar pengawasan dan pengabdian kepada-Nya.
Dalam tauhid dapat dipahami sebagai pusat jaringan kehidupan. Ia adalah nucleus yang mengendalikan cara berpikir, cara merasa, cara bekerja, cara memimpin, cara berdagang, cara mendidik, dan cara membangun peradaban. Ketika tauhid berada pada posisi pusat, seluruh aktivitas manusia bergerak menuju kebaikan. Namun ketika pusat itu digantikan oleh hawa nafsu, kepentingan pribadi, kekuasaan, materi, atau popularitas, maka seluruh sistem kehidupan akan mengalami disorientasi.
Di sinilah sesungguhnya persoalan besar yang sedang dihadapi umat Islam dewasa ini.
Kita menyaksikan masjid yang semakin megah. Pengajian semakin banyak. Jamaah haji dan umrah terus meningkat. Lembaga pendidikan Islam berkembang di berbagai daerah. Simbol-simbol keagamaan semakin mudah ditemukan di ruang publik. Namun pada saat yang sama, korupsi terus menggurita. Penyalahgunaan kekuasaan semakin meluas. Narkoba merusak generasi muda. Kekerasan dan kriminalitas meningkat. Ketidakjujuran menjadi kebiasaan. Budaya malu semakin menipis.
Fenomena ini menunjukkan adanya paradoks dalam kehidupan umat. Kita mayoritas dalam jumlah, tetapi sering kali minoritas dalam kualitas. Kita besar dalam statistik, tetapi belum tentu besar dalam pengaruh moral. Kita unggul dalam kuantitas, tetapi belum tentu unggul dalam integritas, produktivitas, disiplin, dan keteladanan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian dari kita masih berada dalam apa yang dapat disebut sebagai tauhid status quo. Tauhid yang berhenti pada pengakuan, simbol, dan ritual, tetapi belum sepenuhnya menjelma menjadi karakter dan sistem kehidupan. Tauhid masih berada di masjid, tetapi belum sepenuhnya hadir di kantor. Tauhid masih terdengar di mimbar, tetapi belum sepenuhnya hidup dalam pasar. Tauhid masih dibaca dalam kitab, tetapi belum sepenuhnya mengendalikan keputusan-keputusan penting dalam kehidupan sosial dan politik.
Padahal orang yang benar-benar bertauhid akan selalu merasa diawasi oleh Allah SWT. Kesadaran inilah yang melahirkan kejujuran, amanah, tanggung jawab, disiplin, dan kepedulian sosial. Ia tidak berbuat baik karena takut kepada manusia, tetapi karena takut kepada Allah. Ia tidak menjauhi korupsi karena takut kepada aparat penegak hukum, tetapi karena yakin bahwa setiap perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.
Karena itu, korupsi yang menggurita sesungguhnya bukan hanya persoalan hukum. Ia juga merupakan indikasi bahwa fungsi sosial tauhid sedang mengalami pelemahan. Sulit dibayangkan seseorang yang benar-benar meyakini Allah Maha Melihat dan Maha Menghitung seluruh amal manusia, tetapi masih tega mengambil hak rakyat, memanipulasi anggaran, memperjualbelikan jabatan, atau mengkhianati amanah publik.
Dalam konteks ini, pemberantasan korupsi tidak cukup hanya dengan regulasi, pengawasan, dan hukuman. Semua itu memang penting, tetapi akar persoalannya tetap berada pada kualitas tauhid manusia. Hukum bekerja ketika ada pengawasan, sedangkan tauhid bekerja bahkan ketika seseorang berada sendirian.
Bagi masyarakat Minangkabau, persoalan ini menjadi semakin penting karena identitas budaya Minangkabau sendiri dibangun di atas fondasi tauhid. Falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah bukan sekadar slogan budaya, tetapi pernyataan bahwa seluruh kehidupan masyarakat harus berpijak pada nilai-nilai ilahiah.
Dalam sejarahnya, Minangkabau pernah melahirkan banyak ulama, cendekiawan, saudagar, dan pemimpin besar. Mereka lahir dari sistem pendidikan surau yang menjadikan tauhid sebagai inti pembentukan karakter. Surau bukan hanya tempat mengaji, tetapi juga tempat menempa disiplin, tanggung jawab, kemandirian, kepemimpinan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dari surau lahir generasi yang kuat akidahnya, luas ilmunya, dan besar kontribusinya. Mereka merantau ke berbagai negeri, membangun jaringan perdagangan, mendirikan lembaga pendidikan, memimpin perjuangan, dan memberikan pengaruh yang luas bagi bangsa ini. Kekuatan mereka bukan semata-mata kecerdasan intelektual, melainkan kekuatan tauhid yang tertanam dalam jiwa.
Oleh sebab itu, memasuki Tahun Baru 1448 Hijriah, agenda besar yang harus dilakukan adalah mengembalikan tauhid sebagai pusat jaringan kehidupan. Tauhid harus menjadi nucleus pendidikan, sehingga sekolah dan perguruan tinggi tidak hanya melahirkan manusia pintar, tetapi juga manusia berintegritas. Tauhid harus menjadi nucleus keluarga, sehingga rumah tangga menjadi tempat lahirnya generasi yang berakhlak mulia. Tauhid harus menjadi nucleus kepemimpinan, sehingga jabatan dipahami sebagai amanah, bukan kesempatan memperkaya diri. Tauhid harus menjadi nucleus ekonomi, sehingga dunia usaha dibangun di atas kejujuran dan keberkahan. Tauhid juga harus menjadi nucleus budaya, sehingga modernitas tidak menjauhkan manusia dari nilai-nilai ketuhanan.
Membangun tauhid berdampak memerlukan strategi yang sistematis. Tauhid harus diajarkan melalui ilmu pengetahuan yang benar. Tauhid harus dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Tauhid harus dicontohkan oleh para pemimpin, ulama, guru, ninik mamak, dan orang tua. Tauhid juga harus diperkuat melalui sistem sosial yang memberikan penghargaan kepada kebaikan dan koreksi terhadap penyimpangan.
Pada akhirnya, kebangkitan Minangkabau dan kebangkitan umat tidak cukup hanya dengan pembangunan fisik, pertumbuhan ekonomi, atau kemajuan teknologi. Semua itu penting, tetapi tidak akan bertahan lama tanpa fondasi moral yang kokoh. Kebangkitan yang sejati harus dimulai dari pembangunan manusia yang bertauhid.
Tauhid melahirkan karakter. Karakter melahirkan kepercayaan. Kepercayaan melahirkan kemajuan. Dan kemajuan yang berkelanjutan hanya dapat berdiri di atas fondasi tauhid yang kuat.
Maka Tahun Baru 1448 Hijriah hendaknya tidak berhenti sebagai perayaan tahunan. Ia harus menjadi momentum hijrah menuju tauhid yang berdampak. Tauhid yang tidak hanya memenuhi rumah-rumah ibadah, tetapi juga menghidupkan ruang-ruang kehidupan. Tauhid yang tidak hanya menjadi keyakinan, tetapi menjadi energi perubahan. Tauhid yang tidak hanya melahirkan kesalehan individual, tetapi juga membangun peradaban yang adil, maju, dan bermartabat.
Inilah makna hijrah yang sesungguhnya: berpindah dari tauhid simbolik menuju tauhid substantif, dari tauhid status quo menuju tauhid transformatif, dan dari tauhid yang dipahami menuju tauhid yang benar-benar berdampak bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan. DS. 15062026.
Berita Terkait
Berita Nasional
BREAKING
KERAGAMAN ITU POTENSI
Berita Nasional
BREAKING
WAFATNYA ULAMA LIMA ZAMAN BUYA BAGINDO M.LETTER
Berita Nasional
BREAKING
BASAPA: TRADISI, PROSESI DAN REKOMENDASI
Berita Nasional
BREAKING
SEJARAH "TABUIK PIAMAN" DAN PERAN DAKWAH SYEIKH BURHANUDDIN ULAKAN DI PARIAMAN
Berita Nasional
BREAKING