Berita Nasional
MAHABBAH: NUKLEUS PENDIDIKAN ISLAM
MAHABBAH: NUKLEUS PENDIDIKAN ISLAM
Dari Konsep Teologis Menuju Praktik Pendidikan Peradaban
Oleh: Duski Samad
Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Imam Bonjol
Dalam ilmu pengetahuan, nucleus berarti inti, pusat, atau sumber energi yang menggerakkan sebuah sistem. Dalam pendidikan Islam, inti tersebut bukan sekadar kurikulum, gedung, teknologi, ataupun metode pembelajaran. Inti yang menghidupkan seluruh proses pendidikan adalah mahabbah (cinta).
Mahabbah merupakan energi spiritual yang menghubungkan manusia dengan Allah, ilmu pengetahuan, guru, sesama manusia, dan alam semesta. Karena itu, pendidikan Islam sejatinya tidak dibangun hanya di atas transfer ilmu (ta'lim), tetapi juga di atas transformasi jiwa (tarbiyah) dan penyucian hati (tazkiyah).
Rasulullah SAW telah menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya ditentukan oleh keluasan ilmu, melainkan oleh kasih sayang yang melandasi proses pendidikan itu sendiri.
Allah SWT berfirman:
«"Maka disebabkan rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka." (QS. Ali Imran: 159)»
Ayat ini menegaskan bahwa kelembutan, cinta, dan kasih sayang merupakan metode pendidikan kenabian yang melahirkan generasi terbaik sepanjang sejarah.
Secara konseptual, mahabbah menjadi nukleus yang menghubungkan tiga pusat gravitasi pendidikan Islam, yaitu: mahabbah kepada Allah yang melahirkan spiritualitas, mahabbah kepada ilmu yang melahirkan peradaban, dan mahabbah kepada manusia yang melahirkan akhlak serta kepedulian sosial.
Namun konsep mahabbah tidak berhenti pada tataran teori. Sejarah pendidikan Islam menunjukkan bahwa cinta selalu hadir sebagai energi yang menggerakkan lembaga-lembaga pendidikan besar dalam peradaban Islam.
Dalam pendidikan Islam klasik, mahabbah tampak dalam penghormatan terhadap guru, budaya adab sebelum ilmu, tradisi rihlah ilmiah, dan sistem sanad yang menghubungkan hati guru dan murid lintas generasi. Para ulama tidak sekadar mewariskan ilmu, tetapi juga mewariskan cinta kepada ilmu dan cinta kepada Allah.
Tradisi yang sama kemudian hidup dalam dunia pesantren. Hubungan kiai dan santri dibangun melalui khidmah, keteladanan, doa, keberkahan, dan kehidupan bersama. Pesantren tidak hanya menjadi pusat pengajaran kitab, tetapi juga pusat pembentukan karakter dan cinta kepada ilmu.
Di Nusantara, khususnya dalam tradisi surau Minangkabau, mahabbah menjadi fondasi pendidikan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Hubungan antara tuanku dan murid menyerupai hubungan orang tua dan anak. Pendidikan berlangsung melalui kedekatan emosional, keteladanan, pengabdian, dan penghormatan terhadap sanad keilmuan.
Pada jaringan pendidikan Syekh Burhanuddin, mahabbah menjadi energi yang melahirkan jaringan ulama, surau, dan tradisi keagamaan yang bertahan selama berabad-abad. Dari satu pusat lahir banyak cabang, dan dari satu guru lahir generasi penerus yang menyebarkan ilmu ke berbagai nagari.
Fakta sejarah ini menunjukkan bahwa kejayaan pendidikan Islam tidak dibangun hanya oleh sistem yang baik, tetapi oleh cinta yang menghidupkan sistem tersebut. Ketika mahabbah hadir, lahirlah adab. Ketika adab tumbuh, ilmu menjadi bermanfaat. Ketika ilmu bermanfaat, lahirlah peradaban.
Di era digital saat ini, tantangan terbesar pendidikan bukan kekurangan informasi, tetapi kekurangan empati. Sekolah menghasilkan banyak lulusan cerdas, tetapi belum tentu melahirkan manusia yang peduli. Karena itu, pendidikan Islam masa depan perlu mengembangkan Kurikulum Mahabbah, yaitu kurikulum yang menjadikan cinta sebagai ruh seluruh proses pendidikan.
Kurikulum ini menanamkan cinta kepada Allah, Rasulullah, ilmu, guru, orang tua, sesama manusia, bangsa, dan alam. Dengan demikian pendidikan tidak hanya menghasilkan manusia pintar (smart people), tetapi juga manusia beradab (civilized people) dan manusia penuh kasih (compassionate people).
Maka dapat ditegaskan bahwa mahabbah bukan sekadar salah satu nilai pendidikan Islam, melainkan nukleus yang menghidupkan seluruh bangunan pendidikan Islam. Dari mahabbah lahir tarbiyah, dari tarbiyah lahir adab, dari adab lahir ilmu, dan dari ilmu lahir peradaban.
Mahabbah adalah nukleus pendidikan Islam; darinya tumbuh ilmu, akhlak, peradaban, dan kemanusiaan.ds. 12062026.
Berita Terkait
Berita Nasional
BREAKING
KERAGAMAN ITU POTENSI
Berita Nasional
BREAKING
WAFATNYA ULAMA LIMA ZAMAN BUYA BAGINDO M.LETTER
Berita Nasional
BREAKING
BASAPA: TRADISI, PROSESI DAN REKOMENDASI
Berita Nasional
BREAKING
SEJARAH "TABUIK PIAMAN" DAN PERAN DAKWAH SYEIKH BURHANUDDIN ULAKAN DI PARIAMAN
Berita Nasional
BREAKING