FGD REVIEW KURIKULUM: FUSA BENTENG TURAST DAN TERAPI VUCA Berita Nasional

FGD REVIEW KURIKULUM: FUSA BENTENG TURAST DAN TERAPI VUCA

Admin 12 Mei 2026, 05:41 WIB 4 dibaca 0 komentar
Bagikan:

FGD REVIEW KURIKULUM: FUSA BENTENG TURAST DAN TERAPI VUCA

Oleh: Duski Samad
Dosen Prodi Tasawuf dan Psikoterapi Islam

Tulisan ini disiapkan bentuk curhat akademik dan tentu juga media penyampai harapan kiranya Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama-Agama (FUSA) terus kuat dan tangguh menjadi benteng turast, ilmu-ilmu dasar keislaman dari serbuan pemikiran pragmatisme, sekularisme, dan pandangan mereka yang cendrung menempatkan studi turast dan ilmu-ilmu keislaman sebatas cassing, lemah materi dan tak jarang ditemukan alumni mutakhir jauh dari orbit keushuluddinan. 

Tulisan ini adalah juga refleksi seorang alumni linear (BA. Sarjana Muda Fakultas Ushuluddin 1985. Drs. Sarjana lengkap Jurusan Aqidah Filsafat, 1988. M.Ag Pemikiran Islam 1999. Dr. Doktor Kajian Islam Peminatan Ilmu Tasawuf dan Guru Besar, Professor dalam Ilmu Tasawuf), yang berharap ada keinginan kolektif dari Pimpinan Universitas, Fakultas, Prodi dan dosen untuk meneguhkan keilmuan keislaman,  turast, dan tafaqquhfiddin disamping ilmu-ilmu lainnya. 

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, manusia modern justru mengalami kegelisahan yang semakin dalam. Teknologi berkembang luar biasa, tetapi krisis makna hidup juga meningkat tajam. Informasi melimpah, namun kebijaksanaan semakin langka. Media sosial membuka ruang komunikasi tanpa batas, tetapi sekaligus melahirkan fanatisme, kebencian, kegaduhan, bahkan kehilangan kewarasan sosial.

Dunia hari ini dikenal dengan istilah VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)—situasi penuh perubahan cepat, ketidakpastian, kompleksitas, dan kekaburan nilai. Dalam kondisi seperti ini, Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FUSA) tidak boleh dipahami sekadar fakultas teoritis yang mengajarkan ilmu-ilmu klasik tanpa relevansi sosial. Sebaliknya, FUSA harus tampil sebagai benteng terakhir penjaga ilmu, penjaga akhlak, penjaga nalar sehat, sekaligus terapi bagi krisis manusia modern.

Sejarah Perguruan Tinggi Islam di Indonesia sesungguhnya lahir dari kegelisahan peradaban. Dari surau, pesantren, dayah, dan madrasah, lahirlah tradisi keilmuan Islam yang tidak hanya mencetak manusia cerdas, tetapi juga membangun karakter, akhlak, dan tanggung jawab sosial. Ketika Sekolah Tinggi Islam (STI) berdiri tahun 1945 yang kemudian berkembang menjadi Universitas Islam Indonesia (UII), lalu lahir PTAIN, IAIN, hingga UIN di berbagai daerah, orientasi dasarnya bukan semata mencetak tenaga kerja, tetapi membangun peradaban ilmu dan moral bangsa.

Karena itu Perguruan Tinggi Keagamaan Islam sesungguhnya memikul dua mandat besar sekaligus: mandat akademik dan mandat keislaman. Allah SWT telah menegaskan dalam QS. At-Taubah ayat 122 bahwa harus ada kelompok yang secara serius memperdalam agama agar mampu memberi pencerahan kepada masyarakat. Ayat ini menjadi dasar filosofis keberadaan FUSA sebagai pusat kaderisasi intelektual dan penjaga arah umat.

FUSA adalah benteng terakhir ilmu-ilmu turats. Di dalamnya hidup tradisi tafaqquh fiddin, sanad keilmuan, adab, etika, dan pembentukan karakter yakhsya Allah. Di tengah pragmatisme pendidikan modern yang sering hanya mengejar pasar kerja, FUSA menjaga ruh keilmuan Islam agar tidak tercerabut dari akar spiritual dan moralnya.

Lebih dari itu, FUSA juga menjadi penjamin kewarasan intelektual dan spiritual. Era algoritma digital telah melahirkan generasi yang cepat bereaksi tetapi lemah refleksi. Banyak orang mudah marah, mudah menghakimi, dan mudah terseret propaganda karena lemahnya tradisi berpikir logis, kritis, dan epistemologis. Karena itu FUSA harus memperkuat logos, mantiqi, metodologi ilmiah, dan budaya dialog agar lahir generasi yang cerdas sekaligus bijaksana.

Di sinilah pentingnya setiap program studi di lingkungan FUSA memiliki orientasi terapi sosial dan peradaban.

Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir bukan hanya penjaga turats tafsir, tetapi harus mampu menjadi solusi atas kedangkalan memahami agama, distorsi makna ayat, dan pertentangan antara wahyu dan rasionalitas. Dunia digital hari ini dipenuhi tafsir instan yang sering memotong ayat demi kepentingan politik, kebencian, dan fanatisme. Karena itu prodi ini harus melahirkan mufassir yang kontekstual, mendalam, dan mampu menjawab tantangan zaman.

Prodi Ilmu Hadis juga sangat strategis sebagai pengawal orisinalitas agama. Di tengah munculnya gejala inkarus sunnah, salah paham terhadap hadis, ghuluw dalam beragama, dan sikap meremehkan sunnah, ilmu hadis menjadi benteng moderasi dan kehati-hatian ilmiah. Kritik sanad, kritik matan, dan pemahaman maqashid hadis harus diperkuat agar umat tidak mudah terseret ekstremisme tekstual.

Sementara itu Prodi Aqidah dan Filsafat Islam memiliki tugas besar membangun daya kritis abad ke-21. Dunia modern menghadapi ancaman agnostisisme, relativisme moral, logical fallacy, fanatisme politik, hingga liberalisme tanpa batas. Karena itu prodi ini harus melahirkan generasi yang kritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif, tetapi tetap memiliki karakter dan pijakan nilai yang kokoh.

Prodi Studi Agama-Agama juga semakin relevan di tengah masyarakat global dan multikultural. Konflik identitas dan intoleransi beragama menjadi ancaman serius kehidupan bangsa. Dalam konteks ini, studi agama-agama bukan bertujuan mencairkan aqidah, tetapi membangun kedewasaan dialog, memperkuat kerukunan, dan mencegah ghuluw dalam beragama. Moderasi beragama harus memiliki batas, prinsip, dan arah yang jelas agar tidak berubah menjadi relativisme nilai.

Begitu pula Prodi Psikologi Islam dan Tasawuf serta Psikoterapi Islam memiliki posisi yang sangat strategis dalam menjawab krisis manusia modern. Meningkatnya kecemasan, depresi, kesepian, narkoba, perilaku menyimpang, kecanduan digital, dan kekosongan spiritual menunjukkan bahwa manusia modern tidak cukup hanya diberi kemajuan teknologi, tetapi juga membutuhkan terapi ruhani.

Tasawuf di sini bukan pelarian dari realitas, tetapi terapi peradaban. Melalui tazkiyah al-nafs, dzikir, muraqabah, riyadhah ruhaniyah, dan penguatan makna hidup, tasawuf menghadirkan jalan pemulihan bagi manusia yang kehilangan arah hidupnya. Karena itu pendekatan rehabilitasi sosial berbasis spiritualitas Islam harus menjadi salah satu kekuatan utama FUSA di masa depan.

FGD Review Kurikulum 2026 menjadi momentum penting untuk mengembalikan ruh keilmuan FUSA. Penguatan ilmu-ilmu dasar keushuluddinan harus menjadi prioritas utama pada seluruh program studi, mulai dari Al-Qur’an, tafsir, hadis, ilmu hadis, fiqih, ushul fiqih, tauhid, ilmu kalam, akhlak, tasawuf, ilmu mantiq, hingga adabul bahsi wal munazharah. Tanpa fondasi epistemologi yang kuat, mahasiswa akan mudah kehilangan arah berpikir dan identitas keislaman.

Sistem ma’had juga perlu diperkuat. Mahasiswa tahun pertama wajib mengikuti ma’had muqim secara penuh dengan pembinaan halaqah, sorogan, tahsin Al-Qur’an, pembiasaan ibadah berjamaah, serta penguatan disiplin akademik dan ruhani. Kampus Islam tidak cukup hanya melahirkan sarjana pintar, tetapi juga harus melahirkan manusia beradab dan memiliki kekuatan moral.

Demikian pula tahsinul Qur’an dan penguasaan kitab turats harus menjadi syarat akademik yang serius. Ujian komprehensif berbasis pembacaan kitab standar sesuai prodi menjadi penting agar lulusan PTKI tetap memiliki hubungan intelektual dengan tradisi besar keilmuan Islam.

Akhirnya, FUSA tidak boleh kehilangan identitas sejarahnya. Jika Perguruan Tinggi Islam hanya mengejar kompetensi teknis dan pasar kerja semata, maka ruh keilmuan Islam perlahan akan hilang. Padahal dunia modern justru sedang mengalami krisis makna, krisis moral, dan krisis spiritual yang sangat dalam.

Karena itu FUSA harus tetap menjadi benteng terakhir penjaga ilmu, penjaga akhlak, penjaga kewarasan, dan penjaga masa depan peradaban Islam.

Di tengah dunia yang semakin bising, manusia sesungguhnya sedang mencari ketenangan. Dan ketenangan itu tidak lahir dari teknologi semata, tetapi dari ilmu yang melahirkan hikmah dan hati yang mengenal Tuhannya. DS.10052026.

Komentar

Silakan masuk untuk memberikan komentar.

Masuk

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berlangganan Newsletter

Dapatkan berita terpilih langsung di kotak masuk Anda setiap hari.