DAKWAH EMPOWERMENT MODEL BERBASIS TAREKAT Berita Nasional

DAKWAH EMPOWERMENT MODEL BERBASIS TAREKAT

Admin 12 Mei 2026, 09:59 WIB 4 dibaca 0 komentar
Bagikan:

DAKWAH EMPOWERMENT MODEL BERBASIS TAREKAT
(Dari Fiqih Oriented Menuju Spiritualitas Transformatif)

Oleh: Duski Samad

Perdebatan lama antara fiqih dan tasawuf sesungguhnya tidak pernah benar-benar selesai dalam dunia Islam. Sebagian kalangan memandang fiqih sebagai pusat keberagamaan, sementara tasawuf dianggap sekadar pelengkap spiritual. Akibatnya, banyak lembaga pendidikan Islam tumbuh sangat kuat dalam penguasaan hukum-hukum syariat, tetapi lemah dalam pembinaan ruhani, empati sosial, dan ketenangan batin.

Fenomena itu juga dapat ditemukan di banyak pesantren tradisional yang selama puluhan tahun lebih menekankan pendekatan fiqih oriented. Santri dididik kuat dalam hukum-hukum ibadah, nahwu, sharaf, ushul fiqih, dan perdebatan khilafiyah, tetapi sering kurang mendapatkan ruang penguatan dimensi spiritual dan pengalaman ruhani secara mendalam.

Namun menariknya, dalam beberapa tahun terakhir mulai muncul gejala perubahan di sejumlah pesantren besar, termasuk di Pondok Pesantren Musthafawiyah. Pesantren yang dikenal kuat dalam tradisi kitab kuning dan orientasi fiqih ini mulai memperlihatkan kecenderungan baru menuju penguatan tarekat dan spiritualitas.

Temuan lapangan menunjukkan bahwa sebagian santri dan alumni mulai merasakan kegelisahan baru kehidupan modern. Penguasaan ilmu fiqih ternyata belum selalu menghadirkan ketenangan jiwa. Banyak yang cerdas secara hukum agama, tetapi mengalami kegersangan spiritual. Ada yang memahami halal-haram secara detail, tetapi masih mudah cemas, marah, terjebak konflik sosial, bahkan kehilangan makna hidup.

Di tengah realitas itu, praktik zikir, pembinaan ruhani, suluk, majelis maulid, dan penguatan adab mulai memperoleh tempat yang lebih kuat. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat pesantren mulai menyadari pentingnya keseimbangan antara syariat dan hakikat, antara fiqih dan tasawuf.

Perubahan orientasi ini menjadi sangat penting untuk dibaca secara akademik. Sebab selama ini penelitian tentang tarekat sering dipahami hanya sebagai kajian ritual sufistik atau mistisisme klasik. Padahal di lapangan, tarekat mulai tampil sebagai kebutuhan psikososial masyarakat modern.

Di Pondok Pesantren Musthafawiyah misalnya, penguatan dimensi tarekat tidak sekadar menghadirkan ritual tambahan, tetapi mulai membentuk kultur baru: santri lebih tenang, hubungan sosial lebih lembut, penghormatan kepada guru meningkat, dan solidaritas jamaah lebih kuat. Zikir berjamaah tidak hanya dipahami sebagai ibadah individual, tetapi sebagai media penguatan emosi kolektif dan ketahanan spiritual komunitas.

Fenomena ini memperlihatkan adanya transformasi penting: dari fiqih sebagai instrumen legalitas menuju tasawuf sebagai energi moral dan penyembuh sosial.

Di sinilah sesungguhnya terdapat research gap yang sangat menarik. Penelitian tentang pesantren selama ini dominan membahas:
kurikulum kitab kuning,
tradisi fiqih, otoritas ulama,
atau sistem pendidikan klasik.

Sementara perubahan orientasi dari fiqih oriented menuju spiritual empowerment berbasis tarekat masih relatif sedikit dikaji secara mendalam.

Padahal fenomena ini sangat relevan dengan krisis dunia modern. Manusia hari ini bukan hanya mengalami krisis ilmu, tetapi juga krisis makna, krisis ketenangan, dan krisis spiritualitas. Karena itu, keberadaan tarekat dalam lingkungan pesantren dapat dibaca sebagai bentuk adaptasi terhadap kebutuhan zaman.

Novelty penelitian ini menjadi sangat kuat karena menghadirkan perspektif baru bahwa tarekat bukan sekadar ritual spiritual, tetapi model dakwah empowerment. Dakwah tidak lagi dipahami hanya sebagai ceramah dan transfer ilmu, tetapi proses healing society, penguatan karakter, dan pembangunan ketahanan mental masyarakat.

Tarekat dalam konteks ini menjadi spiritual social capital, yaitu modal sosial berbasis ruhani yang mampu melahirkan:
trust, solidaritas,
disiplin moral,
ketenangan jiwa,
dan loyalitas sosial.


Hal menarik lainnya adalah munculnya model experiential da’wah, yaitu dakwah berbasis pengalaman spiritual. Santri tidak hanya memahami agama secara teoritis, tetapi mengalami langsung nilai-nilai ihsan, muraqabah, tawakal, dan tazkiyatun nafs dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, penelitian tentang transformasi pesantren fiqih oriented menuju penguatan tarekat sesungguhnya bukan sekadar studi keagamaan, tetapi kajian tentang perubahan sosial, kesehatan mental, dan masa depan pendidikan Islam.

Dalam konteks metodologi, penelitian ini sangat tepat menggunakan pendekatan etnografi, fenomenologi, atau Participatory Action Research (PAR). Pendekatan ini memungkinkan peneliti memahami pengalaman spiritual santri, perubahan kultur pesantren, dan dampak sosial tarekat terhadap kehidupan jamaah.

Akhirnya, fenomena yang mulai terlihat di Pondok Pesantren Musthafawiyah memberi pesan penting bahwa masa depan dakwah Islam tidak cukup hanya melahirkan generasi yang paham hukum agama, tetapi juga generasi yang sehat ruhani, matang emosional, lembut akhlaknya, dan kuat menghadapi krisis zaman.

Sebab manusia modern hari ini tidak hanya membutuhkan fatwa, tetapi juga ketenangan jiwa. Tidak hanya membutuhkan hukum, tetapi juga hikmah. Tidak hanya membutuhkan syariat, tetapi juga cahaya spiritualitas yang menghidupkan hati. DS.

Komentar

Silakan masuk untuk memberikan komentar.

Masuk

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berlangganan Newsletter

Dapatkan berita terpilih langsung di kotak masuk Anda setiap hari.