BOARDING PASS KEHIDUPAN Berita Nasional

BOARDING PASS KEHIDUPAN

Admin 20 Juli 2026, 22:11 WIB 1 dibaca 0 komentar
Bagikan:

BOARDING PASS KEHIDUPAN

Dari Jeddah Menuju Tanah Air, Membawa Cahaya Haramain

Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag.
Peserta Program Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Selembar boarding pass sering kali dipandang sebagai dokumen perjalanan biasa. Namun, bagi seorang mukmin, ia dapat menjadi media tafakur yang mengingatkan bahwa seluruh kehidupan manusia hakikatnya adalah sebuah perjalanan. Setiap keberangkatan selalu memiliki tujuan, setiap persinggahan memiliki pelajaran, dan setiap kepulangan membawa amanah baru.

Di tangan saya kini terdapat dua boarding pass Qatar Airways. Yang pertama membawa rute Jeddah–Doha (QR 1189) pada malam 19 Juli 2026, dan yang kedua melanjutkan perjalanan Doha–Jakarta (QR 956) pada dini hari 20 Juli 2026. Dua lembar kecil ini menjadi penanda berakhirnya perjalanan fisik di Tanah Suci, tetapi sekaligus menjadi awal perjalanan pengabdian di tanah air.

Sesungguhnya, kepulangan bukanlah akhir dari ibadah, melainkan ujian pertama setelah memperoleh berbagai pelajaran spiritual di Haramain.

Allah SWT berfirman:

> وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ

"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa."
(QS. Al-Baqarah: 197)

 

Ayat ini turun dalam konteks haji, tetapi maknanya jauh melampaui perjalanan fisik. Bekal yang paling berharga bukanlah koper yang penuh oleh-oleh, melainkan hati yang dipenuhi ketakwaan, kesabaran, dan keikhlasan.

Rasulullah SAW juga mengingatkan:

> "Barang siapa melaksanakan haji lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat maksiat, maka ia kembali seperti hari ketika dilahirkan ibunya."
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

Makna hadis ini juga menjadi inspirasi bagi jamaah umrah. Ibadah yang mabrur tidak berhenti di Makkah dan Madinah, tetapi tampak dalam perubahan akhlak setelah kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.

Boarding pass juga mengajarkan pentingnya ketaatan terhadap aturan. Setiap penumpang harus hadir tepat waktu, melewati pemeriksaan, mematuhi nomor kursi, dan menaati seluruh prosedur penerbangan. Tidak seorang pun memperoleh pengecualian hanya karena status sosial atau jabatan.

Begitu pula kehidupan. Allah telah menetapkan aturan melalui syariat-Nya. Keselamatan dunia dan akhirat hanya diraih oleh mereka yang menaati petunjuk-Nya. Kedisiplinan yang dilatih selama umrah—hadir lebih awal di Masjidil Haram, menjaga adab, sabar dalam antrean, dan menghormati sesama jamaah—hendaknya menjadi karakter yang terus hidup sepulang ke tanah air.

Perjalanan Jeddah–Doha–Jakarta juga mengingatkan bahwa hidup ini penuh dengan transit. Tidak ada tempat tinggal yang benar-benar abadi di dunia. Masa kecil, masa muda, jabatan, kekayaan, bahkan usia hanyalah persinggahan sementara. Tujuan akhir setiap manusia adalah kembali kepada Allah SWT.

Allah berfirman:

> إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

"Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali."
(QS. Al-Baqarah: 156)

 

Karena itu, boarding pass kehidupan yang sesungguhnya bukanlah yang tercetak di atas kertas, melainkan amal saleh yang kelak menjadi izin memasuki surga Allah.

Perjalanan umrah sebagai tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman merupakan nikmat besar yang harus disyukuri. Pelayanan yang baik, kesempatan beribadah dengan nyaman, serta perjumpaan dengan saudara-saudara Muslim dari berbagai negara memperlihatkan bahwa Islam adalah agama persaudaraan universal yang melampaui batas bangsa dan bahasa.

Kini pesawat akan segera meninggalkan Jeddah. Kota yang menjadi gerbang menuju dua tanah suci itu perlahan akan menghilang dari pandangan. Namun, Makkah dan Madinah tidak boleh hilang dari hati. Cahaya Haramain harus dibawa pulang dalam bentuk ilmu, akhlak, keikhlasan, dan semangat pengabdian kepada umat.

Semoga setiap langkah setelah kepulangan menjadi bukti bahwa umrah ini bukan sekadar perjalanan wisata religi, melainkan transformasi ruhani yang melahirkan manusia yang lebih bertakwa, lebih bermanfaat, dan lebih dekat kepada Allah SWT.

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا، وَارْزُقْنَا عَوْدًا إِلَى بَيْتِكَ الْحَرَامِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ. آمِينَ.

Komentar

Silakan masuk untuk memberikan komentar.

Masuk

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berlangganan Newsletter

Dapatkan berita terpilih langsung di kotak masuk Anda setiap hari.